JAKARTA, Wplus62.com – Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Dudung Abdurachman akhirnya angkat bicara menanggapi isu miring yang menyeret namanya dalam pusaran dugaan korupsi proyek dapur Badan Gizi Nasional (BGN). Dudung dengan tegas menepis kabar yang menuduhnya memiliki “titik dapur” operasional dalam program tersebut.
Dudung membeberkan kronologi awal keterlibatannya dalam kasus korupsi proyek Dapur Badan Gizi Nasional (BGN) saat menggelar konferensi pers di Kantor KSP, Jakarta Pusat, Rabu (10/6/2026). Dalam kesempatan itu, ia menjawab tudingan yang mengaitkan namanya dengan mantan Kepala BGN, Dadan Hindayana.
Awal Mula: Niat Membantu Pesantren
Dudung menjelaskan, keterlibatannya bermula dari permintaan pengurus pondok pesantren, yakni Abah Junaidi dan Ustaz Iskandar, beberapa bulan lalu. Saat itu, pihak pesantren berharap institusinya dapat menjadi sasaran program makan bergizi karena memiliki ribuan santri.
“Saya kan dekat dengan pesantren. Pengurus pesantren menyampaikan bahwa mereka ingin menjadi penerima manfaat, mengingat jumlah santri di sana mencapai 4.000 hingga 5.000 orang,” ujar Dudung.
Jembatani Komunikasi, Bukan Intervensi
Menanggapi aspirasi tersebut, Dudung mencoba memfasilitasi komunikasi antara pihak pesantren dengan Dadan Hindayana. Dudung mengaku hanya menghubungkan kedua belah pihak agar proses administratif dapat berjalan.
“Saya sampaikan kepada Pak Dadan, ada pesantren yang sudah siap secara administrasi. Kemudian, saya minta mereka berkoordinasi langsung melalui staf saya, Arif Nurrohman,” jelas mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) ini.
Setelah proses pengenalan tersebut, Dudung menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak mencampuri urusan teknis maupun kelanjutan program. Ia mengaku tidak mengetahui perkembangan proyek tersebut setelahnya.
Bantah Narasi “Dapur Pribadi”
Fakta di lapangan justru berbanding terbalik dengan rumor yang beredar. Ketika Dudung menanyakan progres proyek beberapa minggu lalu, ia mendapati bahwa dapur yang direncanakan di pesantren tersebut ternyata mangkrak dan urung dibangun.
Dudung menduga, perannya sebagai mediator di awal komunikasi sengaja dipelintir oleh pihak tertentu untuk menciptakan narasi bahwa dirinya memiliki kepentingan pribadi dalam proyek tersebut.
“Prosesnya belum selesai, dapurnya pun belum terbangun. Namun, karena saya yang minta tolong kepada Pak Dadan, kejadian ini dipelintir seolah-olah Pak Dudung punya dapur,” tegasnya.
Tantangan Terbuka bagi Penuduh
Menutup klarifikasinya, Dudung melayangkan tantangan terbuka kepada siapa pun yang mampu membuktikan tudingan tersebut. Ia bahkan menjanjikan hadiah bagi pihak yang bisa membuktikan kepemilikan dapur atas namanya.
“Kalau memang saya punya dapur, silakan cek. Saya kasih hadiah nanti. Jadi, tegas saya katakan, tidak ada sama sekali saya punya dapur,” pungkas Dudung.***













