W+62.com- Kerajaan Sunda-Galuh yang kemudian dikenal dengan nama Pajajaran dipimpin oleh Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja, yang lebih dikenal dengan sebutan Prabu Siliwangi III.
Di masa mudanya, ia dikenal dengan nama Raden Pamanah Rasa. Seiring berjalannya waktu, kisah sejarahnya berkembang dan mengalami berbagai versi, yang sering kali menyebabkan kebingungannya antara nama-nama tokoh serta peristiwa yang melingkupinya.
Salah satu tokoh yang tidak banyak dikenal adalah Raden Harya Banyak Catra, yang jarang disebutkan dalam buku sejarah resmi, meskipun memiliki pengaruh besar di wilayah Jawa Barat bagian timur, khususnya di Banyumas, Purwokerto, Purbalingga, Cilacap, dan Kebumen.
Nama Banyak Catra lebih dikenal di kalangan masyarakat lokal, terkait erat dengan sejarah daerah tersebut, namun bagi banyak orang di luar kawasan itu, tokoh ini masih terdengar asing.
Babad Pasir Luhur
Dalam Babad Pasir Luhur, yang berlatar zaman Kerajaan Pakuan-Parahiyangan (Pajajaran), diceritakan bahwa Sri Prabu Linggawastu, yang memerintah dari 1474 hingga 1513, memiliki empat anak: Raden Harya Banyak Catra, Raden Harya Banyak Blabur, Raden Harya Banyak Ngampar, dan Dewi Retna Pamekas.
Pasir Luhur sendiri dikenal dengan nama-nama lain seperti Medang Sekori, Medang Kamulan, Jawa Pawwatan, dan Pura Medang.
Penyimpangan dan distorsi sejarah sering terjadi dalam penulisan tokoh-tokoh seperti Prabu Siliwangi, di mana sebagian orang salah mengartikan bahwa Prabu Siliwangi III adalah Sri Baduga Maharaja alias Pamanah Rasa, sementara Prabu Siliwangi II, yaitu Prabu Dewa Niskala, ayahanda Pamanah Rasa, jarang dibahas.
Menurut naskah Carita Ratu Pakuan, sejarah keruntuhan Kerajaan Kawali (Galuh) dan pemindahan pusat kerajaan ke Pakuan Pajajaran ini menjadi latar belakang kekuasaan Sri Baduga Maharaja.
Raden Pamanah Rasa, putra Prabu Dewa Niskala (Raja Galuh), menikahi Nhay Kentring Manik Mayang Sunda, putri Prabu Susuk Tunggal, raja Sunda, yang merupakan saudaranya.
Pernikahan ini membawa penyatuan kembali Kerajaan Sunda dan Galuh, yang dikenal dengan nama Kerajaan Padjadjaran.
Nhay Ambetkasih
Salah satu kisah menarik yang jarang diketahui adalah istri pertama Pamanah Rasa, Nhay Ambetkasih, yang disebutkan dalam Naskah Lontar Carita Ratu Pakuan, disimpan di Perpustakaan Nasional RI.
Dari Ambetkasih, Prabu Siliwangi memiliki tiga anak: Banyak Catra, Banyak Ngampar, dan Dewi Ratna Pamekas. Setelah Ambetkasih wafat, ketiga anaknya tidak dapat mewarisi tahta Pajajaran, karena menurut tradisi, calon raja harus memiliki tubuh yang sempurna.
Sebagai akibatnya, tahta jatuh kepada Banyak Blabur, putra dari pernikahan Pamanah Rasa dengan Kentring Manik Mayang Sunda. Banyak Catra dan Banyak Ngampar kemudian kembali ke Pasir Luhur, wilayah yang kini dikenal sebagai bagian dari Kabupaten Cilacap.
Kerajaan Pasir Luhur yang berdiri sekitar 1475 merupakan pecahan dari Kerajaan Pajajaran, dipimpin oleh Gagak Ngampar, saudara dari Banyak Catra. Setelah perpecahan kerajaan, Pasir Luhur dan Dayeuhluhur berkembang menjadi kadipaten-kadipaten kecil.
Kadipaten Dayeuhluhur, yang terletak di wilayah Cilacap, sempat dipimpin oleh keturunan Prabu Siliwangi III, namun akhirnya bergabung dengan Kerajaan Demak pada abad ke-16.
Seiring berjalannya waktu, Kerajaan Dayeuhluhur mengalami perubahan signifikan.
Setelah ditaklukkan oleh Mataram, statusnya berubah menjadi Kadipaten Dayeuhluhur, yang kemudian dibubarkan oleh Belanda pada tahun 1831 setelah keterlibatan Tumenggung Prawiranegara dalam Perang Jawa.
Pembubaran ini mengubah struktur pemerintahan, dan pada tahun 1838, wilayah Dayeuhluhur menjadi bagian dari Kepatihan Dayu-Luhur yang dikelola oleh pemerintah Hindia Belanda.
Kisah panjang sejarah kerajaan ini menunjukkan perjalanan yang penuh gejolak, baik dalam politik internal maupun eksternal, hingga akhirnya berakhir di bawah kendali penjajahan Belanda, yang turut mengubah tatanan sosial dan politik di wilayah tersebut.***
