PANGKEP, W+62.COM – Tim Search and Rescue (SAR) gabungan melanjutkan operasi pencarian 10 korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 nomor registrasi PK-THT pada Senin (19/1/2026) pagi. Memasuki hari kedua, tim memfokuskan operasi pada evakuasi korban dan pencarian kotak hitam (black box) di Pegunungan Bulusaraung, perbatasan Pangkep-Maros.
Fokus Dua Misi Utama
Otoritas SAR menghentikan sementara operasi pada Minggu (18/1) pukul 18.00 WITA setelah menemukan satu jenazah di lereng berketinggian 1.210 mdpl. Pada hari ini, tim memulai kembali pergerakan pukul 06.00 WITA dengan dua target utama:
- Misi Kemanusiaan: Mencari dan mengevakuasi seluruh korban yang berjumlah 10 orang.
- Misi Investigasi: Menemukan kotak hitam untuk kepentingan penyelidikan penyebab kecelakaan.
Tantangan Medan dan Logistik
Berdasarkan laporan jurnalis dari Posko AJU Desa Tompobulu, operasi ini menghadapi empat kendala besar di lapangan:
- Cuaca ekstrem yang berubah sewaktu-waktu.
- Medan terjal berupa batuan karst yang curam.
- Keterbatasan logistik dan perlengkapan evakuasi teknis.
- Variasi level keterampilan serta pengalaman para relawan.
Kasie Ops Basarnas Makassar, Andi Sultan Anwar, mengungkapkan sulitnya kondisi geografis di titik penemuan jenazah. Menurutnya, tim SRU 2 kesulitan melakukan evakuasi karena ketiadaan pohon untuk tambatan tali.
“Semua batu terjal dan padang rumput, tidak ada batang pohon. Tali sepanjang 200 meter yang kami bawa bahkan tidak mencapai dasar lereng,” ujar Andi Sultan.
Lokasi Kejadian
Titik penemuan bangkai pesawat berada di lereng utara puncak ketinggian 1.120 mdpl, yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung dan Geopark Maros-Pangkep. Saat ini, pusat komando atau crisis center berada di Desa Tompobulu, Balocci, yang berjarak sekitar 2,5 jam perjalanan kaki dari lokasi jatuhnya pesawat.***
