KAIRO, Wplus62.com – Anggota DPRD Sumedang, Sonia Sugian, melakukan kunjungan istimewa ke Mesir memenuhi undangan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kairo pada Senin (13/4/2026).
Dalam dialog tersebut, Sonia menantang mahasiswa Indonesia mengubah paradigma demi menjadi penggerak Indonesia Emas 2045. Duta Besar RI untuk Kairo, Kuncoro Giri Waseso, menyambut langsung kedatangannya bersama para diplomat dan ratusan mahasiswa Universitas Al-Azhar dari berbagai jenjang akademik.
Mengubah Paradigma “Nyaman” di Negeri Orang
Dalam dialog “Kiprah Perempuan Politik“, Sonia menyoroti fenomena mahasiswa yang enggan pulang karena terlalu nyaman di Mesir. Faktor utama pemicunya adalah biaya pendidikan gratis, beasiswa penuh, serta biaya hidup yang terjangkau.
“Mereka adalah anak-anak bangsa, Gen Z yang menjadi harapan kita. Saya hadir untuk mengubah mindset mereka. Jangan hanya berbakti untuk bangsa lain, kembalilah ke tanah air dan implementasikan ilmu kalian di Indonesia,” tegas Sonia dengan penuh semangat.
Sonia memaparkan bahwa peluang kerja di Indonesia, baik di bidang keagamaan, kedokteran, filsafat, maupun kewirausahaan, masih terbuka sangat lebar. Ia mendorong mahasiswa untuk menciptakan lapangan kerja baru di bidang pendidikan atau usaha, bukan sekadar menjadi pencari kerja.
Diskusi Hangat yang Memikat Dubes
Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan kritis dan cerdas yang muncul selama diskusi. Materi paparan Sonia bersama narasumber Kemenhan dan Ketua DPD KPP Jawa Barat, Ratnaningsih, memikat perhatian Duta Besar serta para mahasiswa Al Azhar Kairo.
Awalnya, Dubes Kuncoro Giri Waseso dijadwalkan hanya memberikan sambutan pembukaan. Namun, karena tertarik dengan kedalaman materi, beliau memutuskan untuk mengikuti acara hingga tuntas dan memberikan pernyataan penutup (closing statement).
Menuju Indonesia Emas 2045
Sonia mengaku bangga bisa mewakili suara perempuan politik Indonesia di kancah internasional. Bagi dia, kunjungan ini bukan sekadar seremoni, melainkan langkah strategis untuk memastikan SDM unggul Indonesia yang menimba ilmu di luar negeri tidak kehilangan nasionalismenya.
“Alhamdulillah, setelah berdialog, banyak mahasiswa yang tercerahkan dan kembali bersemangat untuk segera lulus lalu pulang membangun negeri. Indonesia sangat membutuhkan kontribusi nyata mereka,” pungkasnya.***
