BANDUNG, Wplus62.com — Sejumlah spanduk misterius bertuliskan “Selamatkan Baznas Kota Bandung dari Orang-orang Politik” tiba-tiba bertebaran di kawasan Ring 1 Kota Bandung. Kemunculan spanduk ini langsung memicu reaksi keras dari warga dan tokoh agama yang mengkhawatirkan netralitas lembaga pengelola zakat tersebut.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Minggu (31/5/2026) pagi, salah satu spanduk membentang di Jalan Dewi Sartika, tepat di belakang pintu keluar Pendopo atau Rumah Dinas Wali Kota Bandung. Selain di lokasi tersebut, alat peraga tanpa identitas pemasang ini juga terlihat di beberapa ruas jalan strategis lainnya.
Momentum kemunculan spanduk ini terbilang krusial. Pasalnya, panitia seleksi saat ini sedang menyaring calon pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Bandung untuk periode 2026-2031.
Diduga Disusupi Mantan Tim Sukses
Menanggapi fenomena tersebut, Perwakilan Keluarga Besar Pondok Pesantren Khozanaturohmah Cibolerang, M. Ridwan, menyatakan keprihatinan yang mendalam. Ia mengendus adanya indikasi bahwa sejumlah calon pimpinan Baznas terafiliasi dengan kekuatan politik praktis.
“Kami sangat prihatin jika calon pimpinan Baznas Kota Bandung periode 2026-2031 merupakan bagian dari suksesi kekuasaan atau mantan tim sukses penguasa saat ini,” ujar Ridwan dengan nada tegas.
Lebih lanjut, Ridwan memperingatkan dampak buruk jika orang-orang politik menguasai Baznas. Menurutnya, konflik kepentingan akan merusak sistem distribusi dana umat.
- Penyaluran Tidak Tepat Sasaran: Dana zakat berpotensi menyimpang dari delapan asnaf (golongan yang berhak).
- Konstituen Sentris: Pemimpin yang bias politik rawan mengalirkan bantuan hanya demi kepentingan konstituen kelompoknya.
- Kekacauan Manajemen: Intervensi politik akan menghancurkan profesionalisme lembaga.
“Kondisi ini harus kita cegah bersama agar penyaluran dana zakat tidak kacau balau,” tambah Ridwan.
Warga Bandung Tuntut Pimpinan yang Netral
Senada dengan Ridwan, masyarakat yang melintas di kawasan Jalan Dewi Sartika memberikan respons positif terhadap pesan spanduk tersebut. Mereka menuntut panitia seleksi untuk menyaring figur yang benar-benar bersih dari kepentingan politik.
Eka Budha Nurrohman (40), seorang warga Balonggede, menyuarakan kekhawatiran serupa. Ia menilai lembaga sakral seperti Baznas sangat riskan jika menjadi alat politik.
“Saya sangat setuju dengan spanduk itu. Jangan sampai lembaga penyalur zakat menjadi bancakan politik. Jika pimpinannya terafiliasi politik, sistemnya pasti kacau balau. Oleh karena itu, pimpinan terpilih wajib netral dari kekuasaan agar bisa bekerja profesional,” tutur Eka.
Harapan senada datang dari Tya Hencaybalaki (45), seorang ibu rumah tangga asal Kopo. Saat ditemui di lokasi, Tya menegaskan bahwa netralitas pimpinan adalah harga mati untuk menjamin keadilan bagi kaum dhuafa.
“Panitia harus mengedepankan calon-calon yang netral. Alasannya jelas, agar penyaluran dana zakat tepat sasaran kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan, bukan yang dekat dengan kekuasaan,” pungkas Tya.***













