Berita Terkini

Menyusuri Misteri Kerajaan Pajajaran

W+62.com– Hingga hari ini, misteri Kerajaan Pajajaran tetap memikat siapapun yang ingin tahu keberadaanya. Selain keratonnya yang hilang, naskah-naskah kuno Sunda yang tersebar ke Belanda menyisakan pertanyaan: apa yang sebenarnya dicari oleh bangsa asing di tanah Sunda?

Di sisi lain, naskah lokal seperti Carita Parahiyangan memberikan gambaran penting, meskipun fragmentaris. Dalam salah satu bagiannya, disebutkan bahwa Pajajaran didirikan oleh Maharaja Tarusbawa, dan pusatnya tak jauh dari hulu Cipakancilan.

Apakah Pajajaran memiliki harta emas? Mungkin tidak se-fantastis yang dibayangkan. Namun, daya tarik kisahnya tetap abadi, terutama ketika kita mencoba memahami peradaban Sunda yang hilang, yang jejaknya kini hanya tinggal mitos dan fragmen sejarah.

Dengan begitu, Pajajaran bukan hanya cerita tentang sebuah kerajaan yang lenyap, melainkan cerminan dari ambisi dan perburuan bangsa-bangsa asing, sekaligus kebanggaan lokal yang masih hidup di hati masyarakat Sunda.

Apakah benar Kerajaan Pajajaran meninggalkan sesuatu untuk keturunannya? Mari kita telisik dari tembang atau kawih buhun atau Rajah buhun.

Rajah :

Luluhur tujuh ngabandung/ ka dalapan keur disorang/ Luluhur tujuh ngabandung/ ka dalapan keur disorang.

salapan heuleut-heuleutan,/ sapuluh Raja Bantala,/ ayeuna seug dibuktikeun,/ cupu manik astagina …/ teundeun di handeuleun sieum,/ keur sampeureun, teundeun piraweuy,

dituruban ku mandepun,/ diwadahan ku mandelar,/ diamparan boeh larang,/ ditunda di bojong jalan,/ kapendak kunu ngaliwat,

dibuka para Pujangga,/ kunu rancage di hate,/dibuka pating haleuang,/ dibuka pating daleungdang,/ Rasa milawung kancana,/ nu hayang dilalakonkeun/

Ahung, Ahung, Ahung

Perburuan VOC

Pada tahun 1579 M, Kerajaan Pajajaran runtuh. Bukan sekadar berakhir, kerajaan ini seolah menghilang tanpa jejak, menciptakan mitos bahwa raja dan keratonnya “ngahiyang” atau lenyap secara gaib.

Perburuan misteri kerajaan Pajajaran bukan hanya saat ini, VOC (Verenigde Oostindische Compagnie) menurut sejarah telah 3 kali mendatangkan tim, dimulai sejak tahun 1687.

Dalam catatan sejarah, ada indikasi bahwa wilayah yang dipercaya sebagai pusat Pajajaran, berada di Pakuan (kini Bogor) sempat menjadi hutan belantara tanpa penghuni.

Namun, saat VOC mulai merambah wilayah ini, mereka tak menemukan sisa atau puing kerajaan. Konon menurut laporan mereka, Pakuan hanya sebuah hutan tanpa penghuni.

Seperti yang beredar dan tercatat dalam sejarah Sunda, dalam rajah mengandung Siloka bahwa leluhur menyimpan mustika ilmu untuk anak dan keturunan, bisa terbuka jika dengan hati yang lapang.***