SUMEDANG, W+62.COM– Pernahkah Anda melintasi Jalan Raya Tanjungsari dan terpesona oleh sebuah bangunan bergaya klasik yang kini menjadi Kantor Kecamatan?
Di balik dinding tebal dan pilar megahnya, gedung ini menyimpan narasi panjang tentang perpindahan kekuasaan, ambisi Daendels, hingga visi besar Pangeran Sugih.
Banyak yang mengira gedung ini hanyalah kantor administrasi biasa. Padahal, secara historiografi, gedung ini adalah jantung dari wilayah Sumedang Barat. Mari kita bedah sejarahnya!
1. Bermula dari Anawadak: Warisan “Jalan Raya Pos” Daendels
Sejarah kantor ini tidak bisa dilepaskan dari proyek ambisius Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808–1818). Saat membangun Grote Postweg (Jalan Raya Pos), Daendels melakukan restrukturisasi besar-besaran.
Pusat pemerintahan yang dulunya berada di Parakanmuncang dipindahkan ke wilayah strategis yang lebih tinggi. Lokasi ini awalnya bernama Anawadak. Nama yang unik ini merujuk pada melimpahnya sumber air di daerah tersebut—yang kini kita kenal sebagai kawasan Babakansitu atau Lembursitu, tepat di samping kantor kecamatan saat ini.
2. Sentuhan Pangeran Sugih: Standardisasi Kemegahan Abad ke-19
Jika Daendels yang meletakkan fondasi wilayahnya, maka Pangeran Suria Kusumah Adinata atau Pangeran Sugih (Bupati Sumedang 1836–1882) adalah sosok di balik kemegahan fisiknya.
Sebagai Bupati yang dikenal visioner dan kaya raya, beliau melakukan standardisasi kantor-kantor pemerintahan di tingkat Kewedanaan (Distrik). Kantor Kecamatan Tanjungsari yang kita lihat sekarang adalah manifestasi dari gaya Indische Empire. Gaya ini menggabungkan:
- Struktur Eropa: Pilar-pilar besar dan dinding beton yang tebal.
- Adaptasi Tropis: Langit-langit tinggi dan jendela lebar untuk sirkulasi udara alami.
3. Dari Kantor Kewedanaan Menjadi Saksi Modernitas
Dulunya, gedung ini adalah Kantor Kewedanaan Tanjungsari. Sebagai pusat distrik, wilayah kekuasaannya sangat luas, mencakup apa yang sekarang kita kenal sebagai Jatinangor, Pamulihan, hingga Sukasari.
Gedung ini berdiri berdampingan dengan Masjid Besar Tanjungsari, menciptakan poros tata kota tradisional Jawa: Alun-alun, Masjid, dan Pusat Pemerintahan. Ia juga menjadi saksi bisu era kejayaan kereta api uap dan industri tembakau yang sempat melambungkan nama Tanjungsari di pasar internasional.
4. Tantangan Pelestarian di Era Digital
Memasuki tahun 2024 dan seterusnya, bangunan ini menghadapi tantangan besar. Sebagai kantor yang masih aktif (dinamis), renovasi fungsional sering kali mengancam keaslian arsitekturnya.
“Jangan sampai pemasangan AC atau penggantian keramik modern menghilangkan jiwa abad ke-19 dari gedung ini.”
Penting bagi kita untuk menjaga elemen asli seperti kusen pintu kayu jati yang besar, struktur atap asli, dan proporsi jendela yang menjadi identitas sejarah Sumedang Barat.
Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Bangunan
Kantor Kecamatan Tanjungsari adalah “pohon Tanjung” yang kokoh. Ia bukan sekadar tumpukan bata, melainkan ruang kerja yang menyimpan rekaman perubahan sosial politik Sumedang dari masyarakat tradisional menuju birokrasi modern.
Menjaga gedung ini berarti menjaga narasi besar tentang bagaimana Tanjungsari menjadi pusat “Sari” (inti) dari kemajuan Sumedang.













