Berita Terkini
Budaya  

Simpay Panaratas Harumkan Sumedang di Jerman, Tanpa Bantuan Disbudparpora dan Bupati

Pimpinan Simpay Panaratas asal Sumedang, Dedy Hernawan

SUMEDANG,W+62.com–Setelah menyelesaikan rangkaian misi kesenian di Jerman, grup gamelan Simpay Panaratas akhirnya kembali ke Sumedang dengan selamat. Perjalanan yang dimulai sejak awal Agustus ini meninggalkan kesan mendalam, baik bagi masyarakat Eropa maupun para seniman muda asal Sumedang.

Kedatangan Simpay Panaratas di Berlin pada 1 Agustus 2025 lalu, disambut hangat oleh Kepala KUAI serta Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Berlin.

Sehari berselang, 2-3 Agustus, mereka langsung menggelar Workshop Gamelan di Rumah Budaya Indonesia (RBI) Berlin bersama pelajar dan pekerja Indonesia.

Usai dari Berlin, tim yang terdiri dari tiga musisi gamelan yakni Dedy Hernawan, Devi Anggitaningrum, dan Muhammad Gilang Assadillah melanjutkan perjalanan ke Munchen pada 4-7 Agustus.

Di kota yang terkenal dengan klub sepak bola Bayern Munchen itu, Simpay Panaratas menggelar workshop sekaligus pertunjukan gamelan di EineWeltHaus.

Meski sederhana, penampilan mereka berhasil menyedot perhatian penonton dan menuai antusiasme tinggi. Seperti yang diungkapkan Pimpinan Simpay Panaratas, Dedy Hernawan kepada wartawan sabtu (16/8/2025).

Tanpa Dukungan Disbudparpora dan Bupati Sumedang 

Puncak perjalanan mereka berlangsung pada 8-10 Agustus 2025 ketika Simpay Panaratas mendapat undangan tampil di Konzerthaus Berlin dalam rangkaian Young Euro Classic Festival.

Di panggung megah tersebut, mereka tampil bersama Tbilisi Youth Orchestra dari Georgia, menghadirkan karya tradisi hingga kontemporer khas Sumedang. Penampilan pada 10 Agustus yang berlangsung selama satu jam itu sukses memukau penonton Eropa.

“Pertunjukan ini menjadi kenangan manis tak terlupakan, dan akan menjadi pijakan kami untuk membawa seni Sumedang lebih dikenal di kancah internasional,” ungkap Dedy Hernawan, pimpinan grup Simpay Panaratas.

Meski berhasil mengharumkan nama Sumedang dan Indonesia, perjalanan misi budaya ini ternyata tidak mendapat dukungan dari Disbudparpora Kabupaten Sumedang maupun Bupati Sumedang.

Hal ini dinilai ironis, mengingat Sumedang menyandang gelar “Puseur Budaya Sunda”, tetapi para senimannya harus berjuang sendiri demi memperkenalkan seni Kasumedangan ke pentas dunia.

“Perjuangan mengangkat ‘ajen inajen‘ seni Kasumedangan akan terus dilakukan, kapan pun dan di mana pun,” tegas Dedy Hernawan.

Misi budaya ke Jerman resmi berakhir pada 10 Agustus 2025. Selanjutnya, Simpay Panaratas sudah menyiapkan rencana tur seni tahun 2026 dengan cakupan wilayah yang lebih luas di Eropa.***