PANGKEP, W+62.COM – Tim SAR Gabungan kembali menemukan satu bagian tubuh (body part) korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di lereng Gunung Bulusaraung, Pangkep, Jumat (23/1/2026) pagi. Penemuan ini menambah daftar panjang evakuasi pada hari ketujuh operasi pencarian di medan ekstrem tersebut.
Kepala Basarnas Makassar, Mohammad Syafii, mengonfirmasi langsung perkembangan terbaru ini. Ia menjelaskan bahwa tim di lapangan menemukan bagian tubuh tersebut sekitar pukul 08.40 WITA.
“Tim di lapangan melaporkan temuan body part terbaru pagi tadi. Dengan tambahan ini, total kami telah mengevakuasi 10 jenazah, baik dalam kondisi utuh maupun bagian tubuh,” ujar Syafii saat memberikan keterangan di Baseops Lanud Sultan Hasanuddin.
Prosedur Ketat Penanganan Jenazah
Syafii menekankan bahwa petugas tetap memperlakukan seluruh temuan sebagai jenazah manusia sesuai prosedur resmi, meski kondisi fisik korban sudah tidak utuh. Hingga Jumat pagi, petugas telah mengemas sembilan kantong jenazah, sementara satu korban tambahan sedang dalam proses pengemasan (packing) oleh tim evakuasi.
“Kami tetap memperlakukan setiap temuan sebagai jenazah sesuai prosedur penanganan, meski kondisinya berupa bagian tubuh yang tidak lengkap,” tegasnya.
Medan Curam dan Risiko Tinggi
Proses evakuasi menuntut kerja keras karena tim harus menyisir jurang dengan kedalaman bervariasi, mulai dari 100 meter hingga lebih dari 500 meter dari puncak lokasi jatuh. Kondisi medan yang sangat curam memaksa Basarnas menerjunkan personel dengan keahlian khusus High Angle Rescue Technique (HART).
Tak hanya mengandalkan tim darat, unsur Combat SAR TNI AU dan pesawat berspesifikasi khusus SAR turut mendukung operasi ini. “Hanya personel dengan keahlian khusus yang bisa menembus medan berisiko tinggi ini,” tambah Syafii.
Evaluasi Penutupan Operasi
Mengingat masa operasi pencarian telah memasuki hari ketujuh, Basarnas akan segera melakukan evaluasi menyeluruh. Syafii menyebut bahwa keputusan untuk memperpanjang operasi bergantung pada masukan Tim DVI dan kondisi fisik para personel.
“Kami mempertimbangkan risiko kontaminasi dan kelelahan personel di medan ekstrem. Keputusan perpanjangan operasi bukan hal mudah karena menyangkut keselamatan seluruh tim yang terlibat,” pungkasnya.***
