JAKARTA, W+62.com– Sabtu kelabu, 27 Juli 1996 menjadi catatan kelam dalam sejarah politik di Indonesia. Peristiwa itu dinamakan Kudeta Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli) 27 Juli 1996.
Berbagai catatan dibalik peristiwa kelam itu dihimpun tim redaksi W+62.com dari berbagai sumber sebagai pengingat sejarah kelam politik di Indonesia.
Peristiwa Kudatuli 27 Juli 1996 adalah peristiwa kekerasan yang terjadi di kantor Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Peristiwa ini tepatnya terjadi di Kantor Sekretariat DPP PDI Perjuangan, Jl. Diponegoro No. 58 Menteng, Jakarta Pusat.
Berdasarkan hasil penyelidikan Komnas HAM, disebutkan bahwa terdapat sejumlah korban tewas 5 orang, korban luka-luka mencapai 149 orang, dan korban hilang sebanyak 23 orang. Adapun kerugian materiil yang diperkirakan hingga Rp 100 miliar.
Lebih dari 20 tahun peristiwa kerusuhan yang menelan cukup banyak korban itu terjadi. Meski begitu, sisa dari peristiwa Kudatuli 27 Juli 1996 masih melekat dalam ingatan para korban, keluarga korban serta saksi mata ketika kerusuhan terjadi.
Hingga saat ini, dalang hingga penyebab pasti di balik kasus Kudatuli 27 Juli 1996 masih belum terungkap. Sementara para keluarga korban sampai saat ini masih terus menuntut adanya keadilan akan peristiwa kerusuhan tersebut.
Mengutip dari Komnas HAM, peristiwa Kudatuli diduga disebabkan oleh perebutan kantor PDI, antara kubu Megawati Soekarnoputri dengan kubu Soerjadi. Namun, banyak pihak merasakan ada banyak keganjilan dari penyebab utama ini.
Komnas HAM menyebut, untuk menuntaskan kasus pelanggaran HAM, termasuk peristiwa Kudatuli 27 Juli 1996 itu, bukanlah perkara mudah. Butuh dukungan politik dari semua pihak agar prosesnya tak terhambat seperti yang terjadi saat ini.
Latar Belakang Peristiwa
Dikutip dari Harian Kompas (22/7/1993), pecahnya peristiwa Kudatuli dikaitkan dengan konflik internal partai saat Kongres IV PDI yang menetapkan Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI.
Diberitakan Harian Kompas, hari pertama Kongres IV PDI di Medan, Sumatera Utara diwarnai kericuhan. Ada pengambilalihan pimpinan sidang oleh Yacob Nuwa Wea yang mengaku sebagai fungsionaris dari DPP PDI Peralihan, bersama 400 rekannya yang menerobos ruang kongres.
Saat itu ada dua kubu dalam internal PDI. Kubu pertama mendukung Soerjadi dan satu lagi ada di kubu Megawati Soekarnoputri.
Akibat suara yang tidak bulat, kericuhan ini berbuntut keputusan Menkopolkam Soesilo Sudarman yang mengatakan Kongres Medan tidak sah dan akan digelar kongres luar biasa (KLB) di Surabaya. Namun, KLB di Surabaya gagal.
Megawati menyatakan diri sebagai Ketua Umum PDI secara de facto dan dikukuhkan melalui Musyawarah Nasional (Munas) PDI pada 22 Desember 1993 di Kemang, Jakarta Selatan.
Sementara, Soerjadi membentuk panitia penyelenggara KLB di Medan pada 20-23 Juni 1996. Hasil KLB memutuskan Soerjadi sebagai ketua umum. Pendukung kedua kubu tak menemui titik temu.
Kronologi kejadian tak mengakui Kongres Medan yang memenangkan Soerjadi. Lalu PDI kubu Megawati pun menjaga DPP siang malam. Sebab isu perebutan DPP sudah merebak.
Mereka berupaya untuk menjaga dan mempertahankan. Di kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, pendukung Megawati menggelar mimbar bebas digelar setiap hari.
Panglima ABRI saat itu, Jenderal Feisal Tanjung, menuduh mimbar tersebut sebagai makar. “Itu bukan bangsa Indonesia lagi. Saya kira itu PKI,” kata Feisal.
Terkait tudingan itu, Megawati membantah. Ia mengaku kegiatannya tak ditutup-tutupi dan tak ada agenda makar.
“Kalau saya mau membuat makar tentu sudah saya lakukan. Kami hanya ingin menjaga harga diri warga yang porak-poranda dengan adanya Kongres Medan,” kata Megawati di depan puluhan wartawan asing dan nasional di akhir Juli 1996.
Detik-detik Kudatuli Pecah
Dikutip dari Harian Kompas, detik-detik Peristiwa Kudatuli pecah pada 27 Juli 1996 yang mengakibatkan sejumlah korban luka, hilang dan tewas pada peristiwa itu.
Pukul 06.20 WIB, Massa PDI pendukung Soerjadi mulai berdatangan. Sebelumnya, terjadi dialog antara delegasi pendukung Soerjadi dan pendukung Megawati sekitar 15 menit. Massa kubu Megawati meminta agar kantor dinyatakan sebagai status quo. Kesepakatan tidak tercapai.
Pukul 06.35 WIB, Terjadi bentrokan di antara kedua kubu. Massa PDI pendukung Soerjadi mulai melempari kantor DPP PDI dengan batu dan paving- block. Kubu lawan membalas dengan benda yang ada di sekitar halaman kantor. Massa pendukung Soerjadi akhirnya menduduki kantor PDI.
Pukul 08.00 WIB, Aparat keamanan kemudian mengambil kantor DPP PDI sepenuhnya. Kantor DPP PDI kemudian dinyatakan sebagai area tertutup, begitu pula dengan akses jalan di sekitarnya.
Pukul 08.45 WIB, sebanyak 50 massa PDI pendukung Megawati yang tertahan di kantor itu diangkut dengan menggunakan tiga truk. Sembilan orang lainya diangkut dengan dua mobil ambulans.
Pukul 11.00 WIB, Massa yang memadati ruas Jalan Diponegoro jumlahnya menjadi ribuan. Sejumlah aktivis LSM dan mahasiswa menggelar aksi mimbar bebas di bawah jembatan layang kereta api, dekat Stasiun Cikini. Terjadi bentrokan terbuka antara massa dengan aparat keamanan.
Pukul 13.00 WIB, Bentrokan antara massa dengan aparat semakin hebat. Massa terdesak mundur ke arah RSCM dan Jalan Salemba. Tiga bus kota, termasuk satu bus tingkat terbakar. Dua jam setelahnya, beberapa gedung di Jalan Salemba terbakar.
Pukul 16.35 WIB, Sebanyak 5 panser, 3 kendaraan militer khusus pemadam kebakaran, 17 truk dan sejumlah kendaraan militer dikerahkan dari Jalan Diponegoro menuju Jalan Salemba. Massa membubarkan diri. Api di sejumlah gedung belum berhasil dipadamkan sampai pukul 19.00 WIB.
PDI Perjuangan Terus Mendesak
Setiap tahun peristiwa kelam Kudatuli diperingati oleh PDI Perjuangan serta menjadi momen untuk mendesak pemerintah untuk terus mengungkapkan status hukum peristiwa Kudatuli itu.
Acara yang dimulai dengan tabur bunga, doa bersama dan juga diskusi seputar peristiwa Kudatuli yang dianggap sebagai momen kebangkitan demokrasi di Indonesia.***
