Berita Terkini

Ngabuburit di Sumedang: Menelusuri Jejak Mahkota Pajajaran dan Guru Ngaji dari Aceh

Gerbang Makam para leluhur kerajaan Sumedang di Gunung Puyuh
Gerbang Makam para leluhur kerajaan Sumedang di Gunung Puyuh, di area tersebut terdapat Makam pahlawan Nasional dari Aceh, Cut Nyak Dhien

SUMEDANG, Wplus62.com — Siapa bilang ngabuburit hanya soal mencari takjil? Di Sumedang, waktu menunggu berbuka puasa bisa menjadi perjalanan lintas waktu yang mendebarkan. Kota ini menyimpan rahasia besar tentang bagaimana sebuah mahkota emas menyelamatkan kedaulatan Sunda di bulan Ramadan, hingga kisah seorang pahlawan Aceh yang menjadi guru mengaji di pengasingan.

Jika Anda berencana menghabiskan sore di Sumedang, pastikan Anda menempuh rute “Heritage Trail” berikut ini untuk merasakan denyut sejarah Islam yang masih hidup.

1. Memulai Sore di Puncak Gunung Puyuh

Perjalanan kita bermula dari ketinggian. Kompleks Makam Gunung Puyuh bukan sekadar pemakaman; ia adalah “bukit para penguasa”. Di sini, udara sejuk menyapa setiap pengunjung yang datang untuk berziarah.

Langkah kaki Anda akan membawa Anda ke makam Pangeran Santri, penguasa Muslim pertama Sumedang Larang. Beliau meletakkan fondasi Islam tanpa menghapus identitas Sunda. Namun, ada satu sudut yang selalu memancing rasa haru: makam Cut Nyak Dhien.

Pahlawan besar asal Aceh ini menghabiskan masa pembuangannya di sini. Warga Sumedang mengenalnya sebagai “Ibu Perbu” karena ketekunannya mengajar Al-Qur’an meski dalam keterbatasan fisik. Kehadirannya membuktikan bahwa Islam menyatukan Nusantara melampaui batas geografis.

2. Menyentuh Legitimasi di Museum Prabu Geusan Ulun

Turun dari Gunung Puyuh, kita menuju pusat kota. Museum Prabu Geusan Ulun berdiri gagah hanya beberapa meter dari Alun-Alun. Di dalam Gedung Srimanganti, tersimpan benda paling sakral dalam sejarah Sunda: Mahkota Binokasih Sanghyang Pake.

Ingatlah narasi ini: Pada Ramadan 1579, empat panglima Pajajaran menyelamatkan mahkota ini dari kehancuran dan menyerahkannya kepada Prabu Geusan Ulun. Peristiwa ini mengubah Sumedang dari kerajaan kecil menjadi pusat kekuasaan sah di tanah Pasundan. Melihat mahkota emas ini dari dekat akan membuat bulu kuduk Anda meremang; Anda sedang menatap simbol kedaulatan yang selamat dari badai sejarah.

Menikmati jelang berbuka puasa di Sumedang, Mesjid Agung di waktu senja sungguh elok

3. Refleksi Spiritual di Masjid Agung Sumedang

Saat matahari mulai condong ke barat melangkahlah ke Masjid Agung Sumedang. Cahaya golden hour yang menembus jendela-jendela tinggi menciptakan atmosfer magis di ruang utama.

Masjid ini mengadopsi arsitektur atap tumpang tiga, sebuah gaya Nusantara yang melambangkan tangga spiritual manusia menuju Sang Pencipta. Di sini, Anda bisa duduk bersandar di tiang kayu yang kokoh, membaca Al-Qur’an, atau sekadar menikmati ketenangan sebelum hiruk-pikuk buka puasa dimulai. Arsitektur masjid ini bicara dengan lantang: Islam masuk ke Sumedang dengan cara merangkul budaya, bukan menyingkirkannya.

4. Menutup Hari dengan Kehangatan Alun-Alun

Tepat sebelum bedug bertalu, Alun-Alun Sumedang berubah menjadi panggung kehidupan. Ribuan warga tumpah ruah mencari kudapan. Aroma khas Tahu Sumedang yang baru diangkat dari penggorengan menyeruak di udara, menggoda selera siapapun yang melintas.

Di sini, sejarah dan modernitas bertemu. Anda melihat menara masjid yang megah di satu sisi, dan keceriaan anak-anak bermain di sisi lain. Ini adalah penutup ngabuburit yang sempurna: merayakan kemenangan iman di atas fondasi sejarah yang kuat.

Mengapa Anda Harus Mengunjungi Rute Ini?

Menelusuri jejak Islam di Sumedang memberikan perspektif baru bahwa agama dan budaya bisa berjalan beriringan secara harmonis. Sumedang tidak hanya memberi Anda rasa (lewat tahunya), tapi juga memberi Anda makna (lewat sejarahnya).***

*Catatan Redaksi & Disclaimer

Artikel ini disusun berdasarkan hasil riset literatur sejarah dari berbagai sumber, termasuk catatan Museum Prabu Geusan Ulun dan tradisi lisan masyarakat Sumedang. Penulis menyajikan narasi ini untuk tujuan edukasi dan pelestarian budaya. Mengingat adanya variasi penafsiran dalam catatan sejarah lama, pembaca disarankan untuk terus menggali referensi akademis guna memperkaya wawasan.