NUSANTARA, W+62.com- Gunung Slamet, dengan puncaknya yang menjulang setinggi 3.432 mdpl, bukan sekadar gunung berapi biasa. Ia adalah sebuah ikon, sebuah simbol, dan sebuah cerminan dari sejarah, budaya, dan alam Indonesia yang kaya.
Terletak di Jawa Tengah, gunung tunggal ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban manusia, menyimpan kearifan lokal yang mendalam, dan menawarkan keindahan alam yang memukau.
Di balik kemegahan sejarah kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, terdapat sebuah kerajaan purba yang sering terlupakan namun memiliki peran signifikan dalam pembentukan peradaban di Pulau Jawa. Kerajaan ini adalah Galuh Purba, yang diperkirakan berdiri pada abad ke-1 Masehi di lereng Gunung Slamet.
Menukil catatan sejarawan Belanda, W.J. van der Meulen, dalam bukunya “Indonesia di Ambang Sejarah” (1988), kerajaan ini dianggap sebagai induk dari banyak kerajaan di Tanah Jawa.
Galuh Purba didirikan oleh sekelompok pendatang dari Kutai, Kalimantan Timur, pada zaman pra-Hindu, sebelum terbentuknya Kerajaan Kutai Kertanegara. Para pendatang ini tiba di Pulau Jawa melalui Cirebon, lalu berpencar ke berbagai wilayah pedalaman seperti Gunung Cermai, Gunung Slamet, dan Lembah Sungai Serayu.
Di sekitar Gunung Slamet, mereka berinteraksi dengan penduduk lokal dan mendirikan sebuah Kerajaan Galuh Purba. Kerajaan ini berkembang menjadi kerajaan besar yang disegani di Pulau Jawa.
Menurut Van der Meulen, hingga abad ke-6 Masehi, wilayah kekuasaannya meliputi daerah yang luas, seperti Indramayu, Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, Bumiayu, Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Kedu, Kulonprogo, dan Purwodadi.
Wilayah yang sangat luas ini menjadi saksi kejayaan Kerajaan Galuh Purba sebelum akhirnya mengalami kemunduran.
Kemunduran Kerajaan Galuh Purba
Pamor Kerajaan Galuh Purba mulai meredup seiring dengan kebangkitan Dinasti Syailendra di Pulau Jawa. Prasasti Bogor mencatat, pada masa itu eksistensi Kerajaan Galuh Purba mulai tergeser oleh munculnya kerajaan-kerajaan baru di berbagai pelosok Jawa.
Meskipun mengalami kemunduran, banyak kerajaan dan kadipaten di Jawa yang masih mengidentifikasi diri dengan nama “Galuh”, menunjukkan pengaruh mendalam dari kerajaan ini.
Beberapa kerajaan yang menggunakan nama Galuh antara lain; Kerajaan Galuh Rahyang di Brebes, Galuh Kalangon di Brebes, Galuh Lalean di Cilacap, Galuh Tanduran di Pananjung, dan Galuh Kumara di Tegal.
Kerajaan-kerajaan ini memiliki wilayah kekuasaan dan ibu kota yang berbeda, namun semuanya mengacu pada akar sejarah yang sama, yakni Kerajaan Galuh Purba. Ada pula Galuh Pataka di Nanggalacah, Galuh Nagara Tengah di Cineam, Galuh Imbanagara di Barunay, dan Galuh Kalingga di Bojong.
Dengan demikian, Kerajaan Galuh Purba bukan hanya sebuah kerajaan tua yang terlupakan, tetapi juga memiliki peran penting dalam membentuk sejarah dan peradaban di Nusantara. ***
