SUMEDANG, W+62.COM– Suasana Kampung Nangkod RT.03 RW 09, Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang terlihat sepi pasca peristiwa terbunuhnya Dede Ruskandi (48) pada Sabtu malam (15/11/2025).
Warga sekitar tak menyangka, keributan yang terjadi malam kemarin itu, berakhir dengan adanya korban jiwa setelah sempat berduel di rumah yang menjadi TKP.
Korban, Dede Ruskandi (48) merupakan kakak ipar pelaku Imar Permana (45), mereka selama ini tinggal serumah.
Dimata tetangga, Dede Ruskandi yang menikah dengan Ai Hayati (47) kakak pelaku Imar Permana itu, seringkali terlibat cekcok rumah tangga dan sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
Sementara itu, Imar Permana belum menikah, dan sehari-hari bekerja sebagai pengrajin. Ia dikenal pendiam dan termasuk rajin beribadah.
“Pelaku merupakan sosok yang pendiam, jarang bepergian, tiap hari sibuk bekerja,” kata Tantan Hadiansyah (42), tetangga korban dan pelaku. seperti dikutip W+62.com dari Tribun Jabar.id, Minggu (16/11/2025).
Kronologi Versi Pelaku
Tantan Hadiansyah mengaku mengetahui kronologi peristiwa itu dari pelaku sendiri, sesaat setelah peristiwa duel itu terjadi.
Wajah Imar Permana (45), pelaku yang menghabisi nyawa kakak iparnya itu tampak santai setelah melakukan tindakan keji itu.
“Sebelum anggota polisi tiba di lokasi kejadian, Imar sempat mencuci tangan yang berlumuran darah dan pisau yang digunakan menghabisi nyawa korban di toilet masjid yang berada di samping rumahnya,”ujar Tantan.
Dengan wajah yang tenang, sambung Tantan, Imar menceritakan kronologi kejadian yang berujung pada hilangnya nyawa korban Dede, kakak iparnya. “Enggak perlu kabur, pasrah saja, nanti juga ada polisi ke sini,” kata Tantan menirukan ucapan Imar setelah menghabisi nyawa korban.
Imar mengatakan, tindakan keji itu ia dilakukan akibat tersulut emosi dan rasa sakit hati setelah melihat kakak kandungnya Ai Hayati (47), bertengkar dan disiksa oleh suaminya, Dede Ruskandi (48).
Dari Cekcok Berakhir DuelÂ
Sebelum pembunuhan terjadi, pelaku tersulut emosi lantaran korban sempat mengancam akan membunuh istrinya sendiri Ai Hayati (47), saat keduanya terlibat pertengkaran hebat persoalan rumah tangga.
“Urang keur gawe nyieun panser, terus ngadenge lanceuk pasea jeung disiksa ku salakina di jero kamar. Tadina ka jero imah teh rek nyarek ulah parasea wae, pas urang ka jero imah, salaki lanceuk kaluar ti kamar, terus manehna nyerenteng ka urang (Saya lagi kerja membuat panser panahan, terus mendengar kakak bertengkar dan disiksa oleh suaminya di dalam kamar. Tadinya masuk ke dalam rumah itu mau melerai, dan menegur jangan ribut terus. Pas saya masuk ke rumah, suami kakak keluar dari kamar, terus dia nyemperin saya),” ucap Imar ditirukan Tantan.
Korban masih melakukan perlawanan, sambung Tantan, setelah ditusuk hingga tangan Imar terluka akibat sabetan pisau.
“Sempat adu jotos dulu, dan saat dia terjatuh, saya mencoba menyayat lehernya, tapi mental. Terus saya kembali menusukkan pisau ke bagian pundaknya. Setelah pisau menancap, pisau dikorek-dikorek sambil ditekan, hingga akhirnya dia meninggal,” kata Imar ditirukan Tantan.
Akibat dari perbuatannya itu, Imar Permana (45) telah diamankan polisi. Dia tengah menjalani pemeriksaan di Mapoksek Jatinangor. Sementara, jenazah Dede dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Sartika Asih Bandung untuk dilakukan outopsi.***













