Berita Terkini

Bernostalgia Menunggu Maghrib: Saat Beklan dan Congklak Geser Dominasi Gadget

Anak-anak bermain congklak dan monopoli saat ngabuburit sebagai alternatif gadget
Anak-anak bermain congklak dan monopoli saat ngabuburit sebagai alternatif gadget

SUMEDANG, Wplus62.com – Aroma takjil mulai menggoda indra penciuman, matahari perlahan tergelincir, dan keriuhan anak-anak memecah kesunyian sore. Tradisi ngabuburit tahun ini berharap membawa kejutan manis: masyarakat mulai memarkirkan gawai mereka dan menghidupkan kembali permainan papan serta ketangkasan tradisional yang hampir punah.

Kota Besar: Strategi Monopoli dan Lincahnya Bola Bekel

Di teras rumah hingga area publik kota besar, anak-anak hingga remaja nampak sibuk menyusun strategi. Mereka tidak lagi menunduk menatap layar smartphone, melainkan fokus pada objek fisik di depan mata.

Ular Tangga & Ludo: Menjadi senjata ampuh pencair suasana. Sorak-sorai pecah saat bidak lawan terpaksa “dimakan” atau turun tangga.

Permainan Beklan (Bola Bekel): Pantulan bola karet dan gemerincing biji tembaga menjadi musik khas sore hari. Jemari lincah para pemain berpacu dengan waktu sebelum bola jatuh kembali ke lantai.

Monopoli & Halma: Melatih kesabaran dan ketangkasan berpikir kritis sembari menunggu bedug Maghrib.

Estetika Kewuk dan Congklak yang Membumi

Pemandangan yang lebih organik terlihat di pelataran masjid dan halaman rumah pedesaan. Di sini, material alam menjadi primadona permainan.

Permainan Kewuk: Kerang-kerang kecil (kuwuk) berserakan di atas lantai atau papan kayu. Anak-anak desa memainkannya dengan teknik melempar dan menangkap yang serupa dengan Beklan, namun dengan tekstur kerang yang unik. Suara klotak-klotak dari tumpukan kewuk memberikan sensasi nostalgia yang dalam.

Congklak: Menggunakan biji sirsak, batu kecil, atau Kewuk sebagai isian lubang kayu. Permainan ini melatih kemampuan berhitung dan strategi distribusi yang jitu.

Simar & Gobak Sodor: Menjadi ajang koordinasi mata serta fisik yang menyehatkan, memastikan tubuh tetap aktif meski sedang berpuasa.

Gadget adalah “Pencuri” Waktu dan Rasa

Kita harus bersuara kritis terhadap dominasi gadget. Meskipun menawarkan hiburan instan, gadget seringkali merampas esensi kebersamaan dalam ritual ngabuburit.

Zombie Digital: Gawai menciptakan sekat tak kasat mata. Orang berkumpul secara fisik untuk ngabuburit, namun pikiran mereka terkurung dalam algoritma media sosial. Ini adalah pemandangan yang ironis di bulan yang menjunjung tinggi silaturahmi.

Hilangnya Interaksi Verbal: Permainan seperti Kewuk atau Congklak memicu dialog spontan, tawa, bahkan perdebatan seru. Sebaliknya, gadget justru membungkam percakapan dan menggantinya dengan keheningan yang dingin.

Kesehatan yang Terabaikan: Menatap layar blue light secara intens saat perut kosong meningkatkan risiko pusing dan kelelahan mata. Permainan tradisional, sebaliknya, melatih motorik dan menjaga ketajaman fokus tanpa merusak kesehatan fisik.

Kemunculan kembali Kewuk, Beklan, dan ular tangga dalam ritual ngabuburit adalah bentuk “perlawanan” terhadap budaya layar. Ini adalah detoks digital yang paling menyenangkan.

Kita diingatkan bahwa kebahagiaan Ramadan tidak tersimpan dalam kapasitas baterai ponsel, melainkan dalam genggaman kerang kewuk dan renyahnya tawa kawan sepermainan.***