SUMEDANG, Wplus62.com – Setiap kali Ramadan memasuki sepuluh malam terakhir, sebuah pertanyaan klasik mulai menghantui warga Sumedang. Mulai dari pedagang di Pasar Inpres hingga pegawai kantoran di pusat kota, semua kompak melontarkan kalimat: “Sareng moal?” (Bareng tidak?).
Pertanyaan singkat ini bukan sekadar basa-basi. Ini adalah cerminan kegelisahan kolektif. Di tengah meroketnya harga pangan dan persiapan mudik yang menguras energi, ketidakpastian tanggal 1 Syawal justru hadir sebagai “beban tambahan” rutin setiap tahun.
Sains vs Ego: Mengapa Sulit Bertemu Titik Terang?
Secara syariat, Sidang Isbat merupakan proses mulia untuk menetapkan waktu ibadah. Namun, kita harus jujur melihat realita. Apakah prosesi yang tayang secara nasional ini benar-benar menghadirkan ketenangan (itminan), atau justru bergeser menjadi panggung formalitas yang membingungkan?
Teknologi masa kini sudah mampu memetakan koordinat benda langit hingga ribuan tahun ke depan. Lantas, mengapa umat Islam di Indonesia masih terjebak dalam lingkaran perdebatan yang sama?
Al-Qur’an dalam Surah Ar-Rahman ayat 5 menegaskan bahwa matahari dan bulan beredar menurut perhitungan. Ayat ini memerintahkan kita menggunakan ilmu hisab sebagai navigasi waktu. Di sisi lain, hadis Rasulullah SAW menganjurkan rukyat (melihat hilal) sebagai penentu puasa dan Idulfitri.
Masalah muncul ketika kedua metode ini tidak lagi saling melengkapi, melainkan menjadi “senjata” untuk saling menegasikan. Kelompok hisab merasa paling modern, sementara penganut rukyat merasa paling sesuai sunnah. Akhirnya, Sidang Isbat sering kali hanya menjadi ajang legitimasi atas keputusan yang sebenarnya sudah organisasi ambil jauh-jauh hari.
Rakyat Sumedang Butuh Kepastian, Bukan Perdebatan Derajat
Masyarakat di tingkat bawah, khususnya di Sumedang, merasa menjadi korban ketidaksiapan sistem. Ketidakpastian isbat berdampak langsung pada urusan logistik harian:
- Ibu Rumah Tangga: Bingung menentukan waktu memasak rendang dan opor agar tidak basi.
- Pedagang Pasar: Sulit menetapkan puncak harga komoditas.
- Panitia Shalat Id: Terhambat dalam menyiapkan lapangan atau masjid.
Jika syariat bertujuan memudahkan (yusrun), mengapa implementasi isbat kita terasa begitu menyulitkan? Ada kesan kuat bahwa perbedaan ini sengaja terpelihara demi eksistensi organisasi. Ego sektoral yang terbungkus dalil sering kali membuat kaidah “Hukmul Hakim yarfa’ul khilaf” (Keputusan pemerintah menyudahi perbedaan) menjadi tumpul.
Menuju Kalender Islam Pemersatu
Sudah saatnya kita bergerak melampaui seremoni tahunan. Pemerintah dan ormas Islam perlu menyepakati Kalender Islam Pemersatu berdasarkan kriteria ilmiah yang tunggal. Jangan sampai kita terlalu sibuk menghitung derajat ketinggian hilal, namun lupa bahwa derajat ukhuwah (persaudaraan) kita justru merosot tajam.
Substansi Idulfitri adalah kembali suci (fitrah). Dan kesucian itu bermula dari hati yang lapang untuk menerima kesatuan, bukan ego yang keras untuk menonjolkan perbedaan. Rakyat tidak butuh perdebatan astronomi yang rumit di atas langit; mereka butuh kepastian di atas bumi agar bisa merayakan kemenangan dengan tenang dan penuh kebersamaan.
Mari kita akhiri drama tahunan ini. Saatnya membangun persatuan yang nyata, bukan sekadar basa-basi di depan kamera.***
