SUMEDANG, W+62.COM– Pekan Wisata Budaya 2025 resmi dibuka oleh Plt. Kadiparbudpora Kabupaten Sumedang di halaman Geoteather Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Selasa (28/10/2025).
Kegiatan yang akan berlangsung selama tujuh hari ini akan menampilkan beragam kegiatan budaya dan edukatif, yang digelar dalam rangkaian acara tersebut.
Kegiatan itu akan diisi dengan, senam massal, mapag alit, simbolis ketapel raksasa, pemotongan pizza ambu sepanjang 10 meter, pameran UMKM khas Rancakalong dan Sumedang, pertunjukan kesenian tradisional, lomba mewarnai, Pasanggiri Reak, pagelaran Tarawangsa, bedah buku, nonton film dokumenter “Menjaras Memori Kolektif” disertai diskusi budaya, hingga pelatihan panahan tradisional (jamparing).
Selain itu, digelar pula festival adu layangan, pagelaran Koromong, Sumedang Walkers, pelepasan LLA (Keraton Sumedang), seminar budaya dan lingkungan, serta berbagai pertunjukan seni khas Kasumedangan.
Kegiatan Berbasis Budaya dan Alam
Ketua Pekan Wisata Budaya 2025, Dr. Roni Hidayat Sutisna, menjelaskan kegiatan ini lahir dari program kerja Kelompok Tani Hutan (KTH) Benteng Muda Mandiri. Sejak 2021 telah menjadi pelopor Desa Budaya binaan Kemendikbud.
Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya sekadar festival, melainkan wujud pelestarian budaya yang berbasis adat dan alam. “Kelompok kami satu-satunya di Jawa Barat yang berbasis adat tradisi, bukan produksi. Kami ingin kegiatan budaya ini menjadi wadah pelestarian alam dan nilai-nilai luhur,” ujarnya.
Dr. Roni juga menjelaskan, makna simbolis dari penembakan ketapel raksasa pada acara pembukaan. “Ketapel raksasa itu melambangkan penanaman pohon. Pelurunya adalah biji-bijian yang dibungkus tanah. Kami ingin menanam kehidupan baru untuk masa depan,” tuturnya.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab kelompoknya, tetapi menjadi gerakan bersama masyarakat untuk menjaga hutan, mata air, dan kebudayaan lokal.
“Kita harus mewariskan mata air yang jernih dan budaya yang hidup untuk generasi mendatang,” tambahnya.
Disparbudpora: Bangun Ekosistem Budaya Sumedang
Plt. Kepala Disparbudpora Kabupaten Sumedang, Dr. Dian Sukmara mengatakan, pelaksanaan Pekan Wisata Budaya kali ini bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, yang memiliki makna pewarisan nilai-nilai kebangsaan dan kebudayaan.
“Sumpah Pemuda bukan sekadar teks, tapi ikrar untuk membangun generasi yang mewarisi nilai budaya. Geotheater ini adalah representasi pewarisan sistem nilai dari generasi ke generasi,” katanya.
Ia menambahkan, kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian program penguatan ekosistem budaya Kasumedangan yang tengah disiapkan pemerintah daerah.
“Kami ingin membangun ekosistem budaya yang kokoh di Sumedang, agar kolaborasi antara seniman, komunitas, dan pelaku UMKM bisa berjalan. Insyaallah pada bulan November nanti akan dilakukan kick off Ekosistem Budaya Kasumedangan dengan menghadirkan ribuan peserta,” ungkapnya.
Lebih lanjut ia menegaskan, seniman bukan sekadar penghibur, tetapi bagian penting dari roda ekonomi budaya. “Dengan ekosistem budaya, kita ingin seniman berdaya, ekonomi lokal bergerak, dan nilai-nilai luhur leluhur tetap hidup,” ujarnya.
Dukungan DPRD: Rancakalong Pusat Budaya Sunda
Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Sumedang, Mulya Suryadi, turut hadir dan memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. “Saya sangat menyambut baik kegiatan ini. Sumedang adalah Puseur Budaya Sunda. Wisata di Sumedang seharusnya menonjolkan budayanya, bukan hanya keindahan alamnya,” ujarnya.
Mulya juga mendorong agar Geotheater Rancakalong dijadikan pusat kegiatan budaya di Sumedang. “Tempat ini sudah representatif. Mari jadikan Geotheater sebagai pusat event budaya. Semua kegiatan seni dan budaya sebaiknya dipusatkan di sini agar semakin dikenal,” katanya.
Ia menilai sarana dan prasarana di kawasan Geotheater sudah cukup memadai, tinggal bagaimana masyarakat dan pemerintah bersama-sama menghidupkannya.
“Budaya adalah identitas. Mari kita banggakan budaya Sunda sebagai jati diri warga Sumedang,” pungkasnya.
Pekan Wisata Budaya 2025 di Geoteather Rancakalong menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali tradisi, melestarikan alam, dan meneguhkan Sumedang sebagai Puseur Budaya Sunda.
Selama sepekan penuh, masyarakat disuguhi berbagai kegiatan seni, budaya, dan edukasi yang sarat makna serta semangat gotong royong lintas generasi.***
