SUMEDANG, Wplus62.com – Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman melayat ke rumah duka Muhammad Rifki Renaldi Gunawan di Lingkungan Cipeteuy, Kelurahan Situ, Sumedang Utara, pada Selasa siang (30/6/2026). Almarhum merupakan salah satu calon manajer Koperasi Desa Merah Putih yang gugur saat mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil) Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).
Tragedi memilukan ini merenggut nyawa Rifki pada Jumat (26/6/2026) lalu. Tidak sendiri, Rifki menjadi satu dari lima peserta yang mengembuskan napas terakhir dalam program pelatihan fisik tersebut.
Negara Sampaikan Dukacita Mendalam dan Salurkan Santunan
Kehadiran Dudung di rumah duka menjadi representasi langsung dari kepedulian pemerintah terhadap keluarga korban. Mantan Kasad tersebut menegaskan bahwa almarhum merupakan putra terbaik bangsa yang sedang berjuang demi misi mulia.
“Saya atas nama negara hadir memberikan ucapan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Ananda Ricky pada saat latihan SPPI,” ujar Dudung dengan nada emosional.
Selain menyampaikan rasa duka, Dudung juga menyerahkan santunan secara langsung kepada keluarga almarhum. Langkah ini melengkapi bantuan yang sebelumnya telah mengalir dari jajaran TNI dan pemerintah daerah.
“Tadi saya memberikan santunan atas nama kantor. Dari Pangdam juga dikasih. Sebelumnya Dandim dan Forkopimda sudah memberikan santunan,” tambahnya.
Imbas Evaluasi: Pemerintah Hapus Materi Fisik Latsarmil
Merespons tragedi yang merenggut lima nyawa tersebut, Dudung menegaskan bahwa pemerintah bergerak cepat melakukan evaluasi total terhadap kurikulum Latsarmil SPPI. Ke depan, pemerintah akan merombak total pendekatan pelatihan dengan berfokus pada aspek manajerial, bukan ketahanan fisik yang berlebihan.
Perubahan signifikan dalam program Latsarmil SPPI meliputi:
- Peniadaan Kontak Fisik: Pemerintah menghapus total kegiatan fisik berat dan menguranginya hingga batas maksimal.
- Fokus Pendekatan Teoritis: Karena para peserta merupakan calon manajer, pembekalan akan menitikberatkan pada manajemen perkoperasian dan praktik bisnis.
- Pemangkasan Durasi Pelatihan: Pemerintah resmi memotong masa Latsarmil dari yang semula berjalan 2 bulan menjadi 1,5 bulan saja.
“Kegiatan-kegiatan fisik ini sudah ditiadakan, ya dikurangi semaksimal mungkin, karena ini calon-calon manajer nantinya. Pembekalannya mungkin pembekalan secara teoritis dan praktik tentang manajemen,” tegas Dudung.
Melalui perombakan radikal ini, pemerintah berharap dapat mencegah insiden serupa terulang kembali di masa depan. Fokus utama program kini bergeser sepenuhnya untuk mencetak manajer koperasi yang kompeten dan siap menyejahterakan masyarakat desa tanpa harus mempertaruhkan keselamatan nyawa.***













