W+62.COM– Selamat ulang tahun yang ke-53, Partai Persatuan Pembangunan (PPP)! Tanggal 5 Januari ini, umur boleh saja sudah kepala lima—usia yang kalau di manusia lagi rajin-rajinnya ikut pengajian dan mikirin warisan.
Tapi bagi PPP, ulang tahun kali ini rasanya seperti makan Tahu Sumedang tanpa cabai rawit: ada yang kurang, dan sedikit bikin keselek. Namun, harus diakui, perayaan kali ini terasa sedikit “nano-nano“—ada manisnya prestasi daerah, tapi ada pahitnya realita di pusat.
Gimana nggak keselek? Untuk pertama kalinya dalam sejarah sejak zaman layar tancap sampai zaman TikTok, partai berlambang Ka’bah ini harus rela jadi penonton di luar pagar Senayan.
Ibarat sebuah pesta, PPP tahun ini harus merayakannya di luar gedung Senayan. Kado ulang tahun berupa angka 3,87% di Pemilu 2024 memaksa partai berlambang Ka’bah ini absen dari kursi DPR RI karena terganjal ambang batas parlemen (parliamentary threshold).
Sebuah pil pahit yang harus ditelan, mengingat sejarah panjang mereka sebagai jangkar politik Islam di Indonesia.
Sedih? Pasti. Tapi, mari kita jangan cuma main drama melankolis.
Sumedang: Cahaya di Tengah Mendung
Namun, di tengah mendungnya langit Senayan, ada cahaya terang yang memancar dari Jawa Barat, tepatnya dari piring Tahu Sumedang.
Kita tidak bisa menutup mata pada keberhasilan Dony Ahmad Munir, kader tulen PPP yang kembali terpilih sebagai Bupati Sumedang (periode 2025-2030) dengan kemenangan telak hampir 50% suara.
Di bawah arahannya, Sumedang bukan lagi sekadar kota singgah buat beli tahu, tapi menjelma menjadi “Laboratorium Transformasi Digital” Indonesia yang prestasinya diakui nasional.
Kita harus angkat topi buat kader hijau yang sukses “nyumedang“. Keberhasilan kader PPP di Sumedang—sebut saja sang Bupati yang sukses memimpin—adalah bukti otentik kalau PPP itu sebenarnya punya resep manjur buat ngurusin rakyat. Dari urusan transformasi digital sampai penekanan angka stunting, Sumedang di bawah bendera hijau sempat jadi buah bibir nasional.
Prestasi dalam penurunan angka stunting yang drastis hingga sistem pemerintahan berbasis elektronik (SPBE) yang juara satu nasional adalah bukti konkret. Ini adalah kritik sekaligus tamparan halus buat struktur pusat: Lho, kalau kader di daerah bisa se-progresif dan se-berprestasi itu, kenapa di level nasional suaranya malah meleset?
Kontras Senayan vs DPRD Sumedang
Yang menarik sekaligus menggelitik adalah kontrasnya nasib. Di level pusat, suara PPP seolah “hilang sinyal”. Tapi coba tengok di DPRD Kabupaten Sumedang. Di sana, PPP bukan cuma jadi penggembira, tapi justru jadi penguasa panggung.
Dominasi kursi PPP di DPRD Sumedang menunjukkan bahwa “mesin hijau” sebenarnya sangat perkasa jika dikelola dengan resep yang pas. Di Sumedang, PPP punya kursi melimpah yang membuat mereka bebas menentukan arah pembangunan daerah.
Ini adalah sindiran halus bagi pengurus pusat: Lho, kalau di Sumedang rakyat bisa dibuat “kecanduan” milih PPP sampai kursinya penuh, kenapa di pusat suaranya malah meleset tipis?
Resep “Tahu” untuk Nasional
Dominasi di DPRD Sumedang dan kemenangan bupatinya membuktikan, pemilih sebenarnya tidak alergi dengan logo Ka’bah, asalkan dibarengi dengan kinerja yang “nyata” dan terasa di dompet serta perut rakyat. Kritik membangunnya sederhana saja: PPP pusat sepertinya perlu belajar “resep bumbu” dari Sumedang.
- Kinerja Melampaui Simbol: Rakyat di Sumedang memilih PPP karena urusan digitalisasi pelayanan dan penurunan stunting yang nyata, bukan sekadar janji-janji yang turun lima tahun sekali.
- Soliditas Legislatif-Eksekutif: Kekuatan kursi di DPRD Sumedang membuat program Bupati jadi mulus. PPP pusat harus belajar bagaimana menciptakan harmoni yang kuat agar konstituen merasa aspirasinya benar-benar diperjuangkan.
- Modernisasi Narasi: Sumedang sukses karena bicara soal data dan teknologi. PPP nasional harus berani tampil lebih modern tanpa harus melepaskan peci dan sarungnya.
Penutup: Masih Ada Hari Esok
PPP itu aset demokrasi. Kita butuh partai Islam yang moderat dan asyik. Jangan sampai di Pemilu 2029 nanti, kita cuma bisa bilang, “Dulu ada partai hijau yang logonya Ka’bah ya…” Ayo bangkit!
Absennya PPP di DPR RI periode ini jangan dianggap sebagai “upacara pemakaman”, melainkan waktu “istirahat di rest area” untuk ganti ban dan servis mesin. Dominasi di DPRD Sumedang adalah bukti bahwa mesin partai sebenarnya masih punya tenaga kuda yang dahsyat.
Selamat ulang tahun, PPP. Semoga di usia ke-53 ini, semangat melayani rakyat se-otentik gurihnya Tahu Sumedang bisa menular ke seluruh penjuru Nusantara. Sampai jumpa di Senayan 2029—dengan catatan, resep dari Sumedang harus segera dibawa ke Jakarta!
Semoga makin hijau, makin waras, dan yang penting… jangan lupa latihan lari biar kuat nanjak di ambang batas 4% besok!***
