Berita Terkini

Garuda Menolak Renta: Saat Sang Jenderal Masih Enggan ‘Pensiun’ dari Hati Rakyat

Oleh: Saeful Ridwan, Pimred Wplus62.com

EDITORIAL — Angka 18 biasanya identik dengan remaja yang baru punya KTP. Namun, bagi Gerindra, ini adalah usia pamer otot. Lewat tema “Kompak, Bergerak, Berdampak”, partai ini tampil bak pemuda gagah yang rajin gym: berdada busung, bersuara menggelegar, namun tetap puitis saat bicara cinta untuk Ibu Pertiwi.

Bukan Sekadar Mengepak Sayap

Kita harus mengakui, Gerindra tidak sedang bermain “layang-layang” politik yang pasrah ditarik ulur angin. Mereka memegang kendali. Kata “Kompak” bukan sekadar slogan; itu adalah mantra yang menyatukan barisan dari pusat hingga ke ranting paling sunyi. Sang nakhoda pusat,

Prabowo Subianto, tetap menjadi magnet utama yang gravitasinya sanggup menarik berbagai benda langit politik ke orbitnya dengan sekali kedipan mata.

Dalam kacamata sastra, Gerindra itu ibarat bait-bait sajak Chairil Anwar: “Sekali berarti, sudah itu mati.” Bedanya, Gerindra menolak mati. Mereka justru meregenerasi semangat. Humornya? Lihat saja bagaimana mereka mengubah lawan menjadi kawan dengan sekali jabat tangan dan sepiring nasi goreng legendaris yang aromanya sanggup meluluhkan ego oposisi paling keras sekalipun.

Dari Jabar ke “Bumi Lingga” Sumedang

Semangat untuk “Bergerak” ini mendarat mulus di sela-sela perbukitan Sumedang. Di bawah komando Heri Ukasah Sulaeman, sang nakhoda DPC Gerindra Sumedang yang juga bertugas sebagai “benteng” rakyat di DPRD Provinsi Jawa Barat, mesin partai ini menderu kencang.

Heri Ukasah dan pasukannya di Sumedang tidak sedang asyik “ngaliwet” di zona nyaman sambil menunggu instruksi jatuh dari langit. Mereka menerjang jalanan berbatu di pelosok Rancakalong hingga pesisir Jatigede demi menjemput harapan warga yang tercecer.

Heri memainkan peran ganda dengan lihai: satu kaki di Bandung untuk mengetuk palu anggaran provinsi, dan satu kaki di Sumedang untuk memastikan warga tidak hanya makan janji, tapi juga merasakan “Dampak” nyata.

Gerindra Sumedang kini menjelma jadi kekuatan yang luwes. Kadang mereka tampil serius saat bicara kedaulatan pangan, namun tetap bisa melontarkan banyolan segar di sela-sela konsolidasi, membuktikan bahwa politik tak selamanya harus seseram wajah penagih utang yang datang di akhir bulan.

Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Sumedang, Heri Ukasah Sulaeman

“Garuda tak terbang karena angin, ia terbang karena kepak sayapnya sendiri. Di atas tanah Sumedang ia menari, di antara aroma tahu dan sejarah para raja ia mengabdi. Jika ia hinggap sejenak untuk menyeruput kopi, itu bukan tanda lelah, melainkan cara ia memastikan bahwa denyut nadi rakyat masih berdetak selaras dengan cita-citanya.”

Mandat di Balik Kelakar

Selamat ulang tahun ke-18, Gerindra. Teruslah mengepakkan sayap meski badai politik datang tanpa permisi. Tetaplah menjadi partai yang gagah namun tetap punya selera humor, karena mengurus negara dengan dahi berkerut terus-menerus hanya akan memperpendek umur dan memperlebar anggaran perawatan wajah para kadernya.

Ingatlah pesan pujangga: “Cinta itu butuh tindakan, bukan sekadar deklarasi.” Rakyat sedang menunggu bukti dari setiap gerakan yang kalian buat. Pastikan kehadiran kalian benar-benar berdampak, agar Garuda tetap menjadi raja di angkasa, bukan sekadar hiasan di dinding kelas yang mulai berdebu.***