SUMEDANG, Wplus62.com – Bupati Sumedang, H. Dony Ahmad Munir, secara resmi membuka gelaran Upacara Pekan Adat Ngalaksa 2026 di Geoteather Rancakalong, Selasa (5/5/2026). Tradisi tahunan ini kembali hadir sebagai pusat perhatian budaya sekaligus simbol ketahanan pangan masyarakat Sumedang.
Perhelatan yang berlangsung hingga 10 Mei 2026 tersebut menggerakkan seluruh elemen masyarakat. Mulai dari sesepuh adat, pemerintah desa, hingga generasi muda bahu-membahu melestarikan warisan leluhur ini.
Wujud Syukur dan Harmoni Alam
Camat Rancakalong, Deni Nurdani Supandi, menjelaskan bahwa Ngalaksa bukan sekadar seremoni biasa. Masyarakat menjalankan tradisi turun-temurun ini sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas melimpahnya hasil bumi, terutama padi.
“Selain menjadi ungkapan syukur, Ngalaksa memperkuat nilai gotong royong dan menjaga kearifan lokal agar tetap hidup di tengah modernisasi,” ujar Deni.
Pelaksanaan tahun ini merupakan buah manis dari musyawarah panjang antara tokoh masyarakat dan para sesepuh. Pemerintah Kabupaten Sumedang pun memberikan dukungan penuh melalui program pelestarian budaya daerah guna memastikan regenerasi nilai-nilai lokal tetap berjalan.
Budaya Sebagai Identitas Bangsa
Dalam sambutannya yang penuh semangat, Bupati Dony Ahmad Munir menegaskan bahwa kekuatan suatu bangsa terletak pada akar budayanya. Ia menyebut Rancakalong sebagai “ruh” kebudayaan di Kabupaten Sumedang.
Beberapa poin penting yang ditekankan Bupati Dony antara lain:
- Akar Pembangunan: Budaya merupakan fondasi utama dalam membangun daerah.
- Filosofi Hidup: Budaya mencerminkan pola pikir dan cara kerja masyarakat yang berintegritas.
- Simbol Kehidupan: Penghormatan terhadap padi (Dewi Sri) melambangkan penghargaan manusia terhadap sumber kehidupan.
“Ngalaksa mengandung nilai-nilai luhur yang sangat relevan dengan masa kini. Ini bukan sekadar tradisi, melainkan identitas yang wajib kita jaga bersama,” tegas Bupati Dony.
Sekilas Tentang Tradisi Ngalaksa
Sebagai informasi, ritual Ngalaksa merupakan prosesi pembuatan laksa (makanan berbahan tepung beras) yang melibatkan kerja kolektif masyarakat. Melalui iringan musik Tarawangsa yang khas, suasana magis dan khidmat menyelimuti setiap tahapan prosesi, menjadikannya magnet wisata budaya unggulan di Jawa Barat.
Dengan dibukanya pekan adat ini, diharapkan kunjungan wisatawan ke Sumedang meningkat, sekaligus memberikan dampak ekonomi positif bagi pelaku UMKM di sekitar wilayah Rancakalong.***













