SUMEDANG, W+62.COM– Bencana longsor yang terjadi di Kecamatan Surian Kabupaten Sumedang, terus meluas mengakibatkan tiga desa (Pamekarsari, Warnasari dan Ranggasari) di wilayah itu kesulitan mendapatkan air bersih dan gagal panen.
Bupati Dony Ahmad Munir melalui postingan dalam media sosialnya melakukan kunjungan langsung ke lokasi bencana longsor bersama dinas instansi terkait dan BPBD Kabupaten Sumedang pada Sabtu (13/12/2025).
“Bencana longsor di Surian, telah menyebabkan kerugian yang cukup parah bagi masyarakat petani, dengan lebih dari 9 hektar sawah dan 5 hektar kebun tergerus material longsor,” ungkapnya.
Dalam kunjungannya itu, Bupati Sumedang memberikan beberapa solusi sementara bagi korban terdampak longsor di Kecamatan Surian. Sebagai solusi untuk mengatasi masalah mendesak ini, pemerintah sudah mulai mengangkut air bersih dari sumber luar.
“Sementara pasokan air bersihnya kita pasok dari Sumedang. Dinas PUTR sudah menghitung untuk memperbaiki terputusnya saluran air untuk tiga desa,” katanya.
Harus Jadi Pelajaran
Sedangkan untuk para petani yang dipastikan gagal panen di Situbatu Desa Pamekarsari, tambah Bupati Dony, mereka akan diberikan sembako, beras, dan yang lainnya, dengan pemberian minimal 10 kg tiap bulan sampai sawahnya bisa berfungsi kembali.
“Ini adalah musibah bagi masyarakat dan pemerintah Sumedang, tapi Inshaallah kami hadir untuk mengatasinya,” ungkap Bupati melalui narasinya.
Selain kerusakan lahan pertanian, longsor juga memutus aliran air bersih bagi tiga desa di sekitar lokasi longsor. “Lebih penting dari peristiwa ini, bahwa longsor ini harus menjadi pelajaran bagi semua pihak,”ucapnya.
Khususnya untuk daerah dengan lereng curam di pegunungan, Bupati meminta agar tanaman keras tidak ditebang dan tanah tidak ditanami palawija. “Palawija tidak mengikat tanah, sehingga membuat daerah rawan longsor,” katanya.
Untuk menjaga keselamatan masa depan dan kelestarian alam, Bupati Dony meminta pihak Perhutani untuk lebih ketat mengawasi penggunaan lahan curam. “Jangan ada lagi tanah curam yang ditanami palawija,” tandasnya.***
