SUMEDANG, W+62.COM– Masa Kesetiaan Anggota (MAKESTA) IPNU-IPPNU Kabupaten Sumedang digelar MTs dan MA Plus Al-Hikam sekaligus Pelatihan Jurnalisme Santri, di Aula MTs Plus Al-Hikam pada Sabtu dan Minggu (18-19/10/2025).
MAKESTA sudah menjadi rutinitas di MTs dan MA Plus Al-Hikam guna menyambung estafet kepemimpinan di PK IPNU IPPNU. Adapun terkait Pelatihan Jurnalisme Santri digelar setelah adanya pemberitaan yang viral di televisi nasional Trans7 yang menjelekkan seorang Kiyai, santri dan lembaga pesantren.
Kegiatan itu dilaksanakan selama dua hari penuh 18-19 Oktober bertempat di Aula MTS Plus Al-Hikam dan dibuka langsung oleh Ketua PC IPNU IPPNU Kabupaten Sumedang.
Pada kegiatan Pelatihan Jurnalistik, Panitia pelaksana mengundang Ketua FORKOWAS (Forum Komunikasi Wartawan Santri Sumedang), Helmi Fauzi untuk mengisi Pelatihan Jurnalistik.
Tema yang dibawakan yakni bernama Jurnalisme Santri “Jadilah Wartawan Untuk Pesantren Anda Sendiri”.
Slogan IPNU-IPPNU
Ketua PC IPNU Sumedang, Sidiq dalam sambutannya menyampaikan bahwa Kegiatan MAKESTA ini adalah jenjang pendidikan awal untuk menjadi anggota.
“IPNU IPPNU ini mempunyai selogan belajar, berjuang dan bertaqwa, maka kita berkumpul disini untuk belajar menjadi seorang pelajar yang terpelajar,” terangnya.
Dikatakannya, perkembangan digitalisasi zaman sekarang sudah berkembang pesat, namun sangat miris jika kita tidak bisa mengikuti dan mempelajari nya dengan baik.
“Belakangan ini media sedang menyoroti kita kalangan Santri Kiyai dengan narasi narasi yang tidak beretika, narasi yang bohong, bahkan mengandung ujaran kebencian. Ini sangat miris dan menyakiti hati kita semua,” Imbuhnya.
Kejadian tersebut terjadi, kata Sidiq, menjelang hari besar kita yakni Hari Santri Nasional.
Pentingnya Jurnalisme Santri
Sementara itu Ketua PK IPNU MA Plus Al-Hikam, Rizky Oktavian Zunaedi mengatakan pentingnya seorang santri mendalami ilmu tatacara menulis.
“Mendengar kasus-kasus yang terjadi belakangan ini, saya pribadi sebagai pelajar sebagai santri geram. Hal ini perlu kita lawan minimal dengan tulisan-tulisan yang dapat memberi edukasi bagi masyarakat luas supaya tidak terprovokasi,” pungkasnya.
Ini yang menjadi alasan kami, lanjut Rizki, MAKESTA PK IPNU IPPNU MTs dan MA Plus Al-Hikam kali ini diisi oleh pelatihan Jurnalistik.
Ketua FORKOWAS (Forum Komunikasi Wartawan Santri Sumedang) Helmi Fauzi merasa senang telah diundang untuk menjadi narasumber dalam kegiatan.
“Saya ucapkan terimakasih banyak kepada panitia yang telah memberi kesempatan untuk hadir di sekolah dan pondok pesantren tercinta ini,” ucapnya.
Menangkal Isu dan Hoaks
Sebagai santri, lanjut wartawan dari kalangan santri itu, berbicara ilmu jurnalistik sangat penting bagi seorang pelajar terkhusus bagi para santri.
“Kang Maman pernah menulis buku dengan judul ” Aku menulis maka aku ada”, nah tulisan itu menjadi motivasi kita sebagai santri untuk belajar menulis dengan baik,” terangnya.
Biasanya santri akan terus dianggap ada, akan dianggap hadir oleh masyarakat ketika terlihat sedang mengajar ngaji, memimpin tahlilan di masyarakat, menjadi khotib dan yang lain sebagainya.
Padahal syiar agama itu, ungkap Helmi, di era zaman modern ini dengan perkembangan digitalisasi yang pesat,santri bisa memanfaatkan syiar melalui tulisan-tulisan di platform media sosial.
“Maka dari itu kita sekarang belajar ilmu Jurnalistik ala santri yang disebut Jurnalisme Santri untuk membuat karya-karya tulisan yang nuansa penulisannya berbeda dengan orang-orang diluar sana,” jelasnya.
Tulisan karya-karya santri harus memiliki etika tatakrama yang baik, dengan bahasa-bahasa islami gaya khas santri untuk memberikan edukasi, sehingga masyarakat dapat memilih dan memilah informasi, khususnya menangkal informasi hoax yang beredar di media sosial.
“Saya berharap, setelah pelatihan jurnalisme santri ini, para santri khusus nya di MTs dan MA Plus Al-Hikam harus menjadi pionir media sosial, membuat karya-karya tulisan untuk dibaca oleh masyarakat luas dan mampu menangkal berita-berita hoaks,” tandasnya.***
