SUMEDANG, Wplus62.com – Halaman Markas Koramil 1004 Tanjungsari mendadak berubah menjadi arena bermain raksasa yang penuh tawa pada Minggu pagi (8/2/2026).
Ratusan ibu-ibu Persit Kartika Chandra Kirana bersama anak-anak Himpaudi Kecamatan Tanjungsari berkumpul untuk satu misi: menyelamatkan generasi emas dari ketergantungan gadget melalui permainan tradisional.
Ada yang berbeda, Markas yang biasanya menjadi pusat koordinasi Babinsa “Rumah Rakyat Patas” ini, kini riuh dengan sorak-sorai peserta lomba.
Nostalgia Permainan Jadul yang Menyehatkan
Alih-alih menatap layar ponsel, anak-anak dan para ibu justru asyik berkeringat memainkan berbagai olahraga tradisional. Suasana kompetisi terasa sangat kental, mirip dengan kemeriahan perayaan HUT RI. Beberapa jenis permainan yang dilombakan antara lain:
- Lompat Tali Karet: Melatih ketangkasan dan tinggi loncatan.
- Bentengan & Gobak Sodor: Mengasah strategi tim dan kecepatan lari.
- Congklak & Bola Bekel: Melatih fokus dan motorik halus.

Alasan Mengapa Permainan Tradisional Lebih Baik dari Game Online
Kegiatan ini bukan sekadar hiburan. Panitia menekankan bahwa permainan tradisional secara alami “memaksa” anak-anak untuk bergerak aktif. Berlari, melompat, dan menjaga keseimbangan sangat efektif meningkatkan kebugaran fisik dan ketangkasan anak.
Sementara itu, berbeda dengan game dunia maya yang cenderung membuat anak pasif dan individualis, permainan tradisional justru menanamkan nilai-nilai penting:
- Sportivitas & Kejujuran: Belajar menerima kekalahan secara sehat.
- Interaksi Sosial: Membangun komunikasi langsung antar teman.
- Kerja Sama Tim: Melatih kepemimpinan sejak dini.
Pesan Danramil: Jaga Karakter Generasi Emas
Danramil 1004 Tanjungsari, Kapten Inf Agus Hermawan, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan HUT ke-80 Persit Kartika Chandra Kirana. Ia merasa prihatin dengan mulai hilangnya permainan lokal akibat dominasi dunia digital.
“Kami ingin mengenalkan kembali kepada putra-putri kita betapa serunya permainan tradisional. Saat ini, banyak anak yang terlalu bergantung pada gadget, yang berdampak negatif pada perkembangan mereka,” ujar Kapten Inf Agus Hermawan.
Ia berharap melalui kolaborasi dengan Himpaudi ini, anak-anak prajurit dan masyarakat luas kembali mencintai warisan budaya bangsa. “Permainan ini penting untuk membentuk karakter, melatih fisik, dan menanamkan kebersamaan yang tidak akan didapatkan di game digital,” pungkasnya.
Oleh sebab itu, melalui aksi nyata ini, Persit Kartika Chandra Kirana membuktikan perannya bukan hanya sebagai pendamping prajurit, tetapi juga sebagai penggerak dalam mencetak Generasi Emas Indonesia yang sehat jasmani, kuat mental, dan tetap berakar pada budaya lokal.***













