SUMEDANG, W+62.com— Suasana Pondok Pesantren Yayasan Kyai Demang Cipaku (YKDC) di Desa Karangpakuan, Kecamatan Darmaraja, Sumedang, berbeda dari biasanya.
Jika pada hari biasa, santri khusyuk mendalami kitab kuning, tapi kali ini mereka “mengaji” Wawasan Kebangsaan bersama Danramil 1010/Darmaraja, Kapten Cba Toni Setiabintara.
Kegiatan bertajuk Pembinaan Wawasan Kebangsaan (Wasbang) ini digelar dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-80 itu disambut antusias santri pada Senin (4/8/2025).
Tercatat sebanyak 100 santriwan dan santriwati mengikuti kegiatan dengan penuh semangat, meskipun disampaikan dalam format semi militer.
Kegiatan yang dimulai pukul 12.30 WIB dengan pengecekan peserta oleh Babinsa, dan dilanjutkan dengan sesi perkenalan hangat pada pukul 12.45 WIB, dan kemudian masuk ke inti materi pukul 13.00 WIB hingga selesai.
Ngaji Wawasan Kebangsaan
Tidak hanya menyampaikan teori, Kapten Toni juga menyelipkan motivasi dan nilai-nilai keislaman yang relevan bagi kalangan pesantren.
“Santri zaman sekarang harus kuat iman dan kuat wawasan. Kalau dulu kita dijajah fisik, sekarang bisa dijajah lewat pikiran. Maka santri harus siap,” ujar Kapten Toni dalam materinya.
Materi yang dibawakan mencakup empat konsensus kebangsaan: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, serta tantangan global seperti disinformasi, budaya asing, dan krisis identitas.
Ketua Yayasan YKDC, Kyai Demang Cipaku, menyambut baik kegiatan ini sebagai penguat sinergi antara pendidikan agama dan nasionalisme.
“Santri bukan hanya penjaga ilmu agama, tapi juga penjaga keutuhan bangsa. Wawasan kebangsaan harus menyatu dengan iman dan takwa. Ini bentuk cinta Tanah Air yang diajarkan agama,” tegas Kyai Demang.
Santri pun antusias mengikuti kegiatan ini. Salah satu peserta mengungkapkan kesan positifnya, “Seru juga ya, belajar soal negara. Jadi tahu kalau cinta tanah air itu bagian dari iman,” ungkap salah satu santri.
Kegiatan ini membuktikan bahwa pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, melainkan juga wadah pembentukan karakter dan semangat kebangsaan. Melalui program seperti ini, semangat Santri Hebat, Indonesia Kuat bukan sekadar slogan, melainkan langkah nyata menuju Indonesia Emas 2045.***
