Berita Terkini
Tak Berkategori  

Jadi Langganan Banjir Cileuncang, Warga Minta Pemkab Sumedang Normalisasi Saluran Drainase

Warga Pamagersari-Warungkawat RW 04 dan 05 Desa Tanjungsari terpaksa iuran untuk memperbaiki dan membersihkan drainase sepanjang 300 meter pada Kamis (25/12/2025)

SUMEDANG, W+62.COM– Ruas jalan yang menghubungkan Pamagersari hingga Warungkawat merupakan jalur vital bagi mobilitas warga Tanjungsari dan sekitarnya.

Namun, setiap kali intensitas hujan meningkat, ruas ini mengalami genangan air (cileuncang) dengan ketinggian 10–30 cm.

Masalah di wilayah ini bukan sekadar intensitas hujan yang tinggi, melainkan kegagalan sistem Siklus Hidrologi Perkotaan. Air tidak dapat dialirkan secara gravitasi menuju badan air (sungai/anak sungai) karena hambatan fisik dan teknis.

Seperti yang diungkapkan oleh tokoh masyarakat Tanjungsari, Yudi Wahyudi. Ia mengatakan cileuncang di Jalan Pamagersari-Warungkawat tepatnya di wilayah Desa Tanjungsari Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang kerap terjadi.

Hal itu disebabkan oleh buruknya saluran air/ drainase sepanjang jalan kabupaten. Setidaknya, panjang jalan Pamagersari-Warungkawat sekitar 2500 meter.

Warga Pamagersari Desa Tanjungsari jadi langganan banjir Cileuncang setiap kali hujan turun.

Minta Normalisasi Drainase 

Melihat kondisi tersebut, warga yang berada di pinggir jalan itu berupaya memperbaikinya dengan swadaya, yakni menghimpun iuran untuk perawatan saluran air sepanjang 300 meter.

“Dulu itu jalan PLN-Warungkawat, kalau sekarang Pamagersari-Warungkawat/Haurngombong. Ini fasilitasnya dari drainase diperlukan untuk dinormalisasi,” ungkap Yudi pada Jumat (26/12/2025).

Mantan Anggota DPRD Sumedang itu menyebutkan, penyempitan ataupun penyumbatan kurang lebih 300 mete, untuk yang di Desa Tanjungsari saja. Sudah beberapa tahun ini tak ada perbaikan untuk saluran/ drainasenya.

“Sampai masyarakat turun swadaya iuran. Malu saya punya pemerintah di kabupaten ataupun di provinsi gitu aja,” ujarnya.

Dikatakan Yudi, jalan Pamagersari-Warungkawat merupakan tanggung jawab Pemkab Sumedang, begitu juga salurannya harus dinormalisasi.

“Iya, imbas banjir dan terjadi penyempitan. Jadi warga di RW 4 dan RW 5, Desa Tanjungsari. sepanjang 300 meter terutama di blok Pasar Hewan, diperbaiki agar air mengalir normal,” katanya.

Sedimen dan Sampah Non-organik 

Kalau berbicara teknis, sambung Yudi, jalur drainase di segmen ini secara umum berfungsi sebagai saluran pembuangan primer untuk air hujan dan limbah rumah tangga (grey water) dari kawasan permukiman padat dan kegiatan komersial yang berada di sepanjang jalan utama.

Sebagian besar saluran di area padat penduduk merupakan saluran terbuka atau semi-tertutup (menggunakan pelat beton di atasnya), dengan dimensi yang bervariasi antara 50 cm hingga 80 cm lebarnya.

“Di beberapa titik, saluran ini tertutup total di bawah badan jalan atau trotoar,” ujarnya.

Saluran ini terhubung dengan saluran drainase lingkungan di gang-gang permukiman, yang kemudian bermuara ke saluran yang lebih besar (saluran tersier) sebelum akhirnya dialirkan ke sungai atau anak sungai setempat.

“Aliran air dari sini, ke saluran anak sungai yang ada ke daerah SS Desa Tanjungsari,”Terangnya.

Kondisi utama yang dihadapi adalah tingginya tingkat sedimentasi lumpur dan penumpukan sampah non-organik.

“Saya berharap pihak Pemkab Sumedang melalui dinas terkait bisa membantu warga yang berada di sepanjang Jalan Pamagersari-Warungkawat untuk menormalisasikan drainase terutama yang masuk daerah Desa Tanjungsari dan Jatisari,” pungkasnya.***