CIREBON,Wplus62.com — Sejarah Kesultanan Cirebon menghidupkan kembali sosok birokrat ulung keturunan Tionghoa, Tan Sam Cai (Tan Sam Tjaij). Masyarakat juga mengenal tokoh yang menyandang gelar Tumenggung Arya Dipa Wiracula (alias Muhammad Syafi’i) ini sebagai penggerak roda pemerintahan yang tangguh.
Sosok ini bukan sekadar pejabat biasa; ia adalah arsitek finansial yang memperkokoh fondasi ekonomi Cirebon pasca-era Sunan Gunung Jati. Namun, hidupnya berakhir tragis dan penuh kontroversi religi yang membekas hingga ratusan tahun.
Jejak Karier di Istana Cirebon
Tan Sam Cai mengawali kariernya dari lingkaran dalam kekuasaan. Sebagai keponakan Tan Eng Hoat (Adipati Wirya Sanjaya), ia memiliki koneksi kuat dengan elite penguasa. Sejarawan Slamet Muljana mencatat perjalanan awal Sam Cai saat ia mengawal ketat putri Tan Eng Hoat, sebelum akhirnya Sultan Cirebon pertama mempersunting sang putri.
Kecakapan administrasinya membawa Sam Cai masuk ke jajaran pejabat istana antara tahun 1569 hingga 1585. Sejarawan M.C. Ricklefs menjuluki Sam Cai sebagai administrator yang jempolan. Puncaknya, ia menjabat sebagai Menteri Keuangan Kesultanan Cirebon, sebuah posisi krusial yang menentukan stabilitas negara setelah wafatnya Sunan Gunung Jati pada 1568.
Kontroversi Iman: Antara Masjid dan Kelenteng
Meski berstatus sebagai penganut Islam, Tan Sam Cai menghadapi stigma “murtad” dari lingkungan sekitarnya. Tuduhan ini muncul karena ia enggan meninggalkan akar budayanya.
- Ritual di Kelenteng: Sam Cai rutin mengunjungi Kelenteng Talang untuk membakar hio (dupa).
- Dilema Identitas: Masyarakat masa itu melihat tindakannya sebagai bentuk ketidakkonsistenan iman.
- Penyelamat Ekonomi: Walau diterpa isu miring, Kesultanan tetap mempertahankan posisinya. Slamet Muljana menegaskan bahwa jasa Sam Cai dalam memperkuat keuangan Cirebon terlalu besar untuk diabaikan.

Akhir Hayat yang Tragis dan Penolakan Pemakaman
Tahun 1585 menandai akhir perjalanan sang menteri. Tan Sam Cai wafat secara mendadak di kediamannya di Sunjaragi. Muncul dugaan kuat bahwa ia tewas akibat diracun menyusul perselisihan sengit dengan Haji Kung Sem Pak, penjaga makam pembesar Cirebon.
Tragedi berlanjut pascakematiannya:
- Penolakan Jasad: Pengelola makam di Sembung menolak jenazahnya karena tuduhan murtad.
- Pemakaman di Rumah: Sang istri, Nurleila, akhirnya memakamkan Sam Cai di pekarangan rumah mereka sendiri dengan tata cara Islam.
- Dewa di Kelenteng: Ironisnya, masyarakat Tionghoa non-Muslim justru mengukuhkan statusnya sebagai Sam Cai Kong. Mereka menempatkan plakat namanya di posisi terhormat pada altar leluhur Kelenteng Talang sebagai sosok suci atau setengah dewa.
Warisan Tan Sam Cai bagi Cirebon
Hingga hari ini, nama Tan Sam Cai abadi dalam dua tradisi. Di satu sisi, ia adalah pejabat Muslim yang berjasa bagi kesultanan; di sisi lain, ia adalah roh pelindung bagi komunitas Tionghoa di Cirebon. Kisahnya mencerminkan betapa kompleksnya persilangan budaya dan agama di tanah Jawa pada abad ke-16.
Akulturasi Arsitektur: Jejak Tan Sam Cai dalam Estetika Cirebon
Sebagai pejabat tinggi, Tan Sam Cai membawa selera dan teknologi konstruksi yang lazim di komunitas Tionghoa ke dalam proyek-proyek kesultanan. Pengaruh ini menciptakan gaya Arsitektur Cirebonan yang sangat distingtif dibandingkan daerah lain di Jawa.
1. Keramik Tiongkok sebagai Elemen Struktural
Salah satu ciri paling ikonik dari bangunan bersejarah di Cirebon, seperti Keraton Kasepuhan dan Makam Gunung Jati, adalah penggunaan piring keramik Tiongkok (porcelain) yang ditempel pada dinding.
Peran Sam Cai: Sebagai menteri keuangan, ia memfasilitasi perdagangan komoditas dari Tiongkok. Piring-piring ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol kemakmuran dan hubungan diplomatik yang erat antara Cirebon dengan Dinasti Ming/Qing.
2. Teknik Konstruksi Kayu (Tumpang Sari dan Ukiran)
Jika Anda memperhatikan bagian atap dan soko guru (tiang utama) di masjid atau pendopo keraton di Cirebon, terdapat sentuhan teknik pertukangan Tionghoa.
- Warna Merah dan Emas: Penggunaan warna merah dominan dengan aksen emas (seperti pada Masjid Sang Cipta Rasa) merupakan pengaruh kuat estetika Tionghoa yang melambangkan kebahagiaan dan kemuliaan.
- Motif Flora: Ukiran pada kayu sering kali menggunakan motif sulur yang menyerupai seni dekoratif Tiongkok namun tetap mengadaptasi nilai-nilai Islam yang menghindari penggambaran makhluk hidup secara nyata.

3. Taman Air Sunyaragi: Labirin Karang yang Unik
Tan Sam Cai wafat di Sunyaragi, sebuah kompleks gua dan taman air yang sangat eksentrik.
- Material Karang: Penggunaan batu karang untuk membentuk bukit-bukit buatan mirip dengan konsep taman “Penjing” atau taman batu di Tiongkok.
- Fungsi Spiritual: Meskipun para sufi menjalankan meditasi Islam di tempat ini, tata letak dan elemen airnya memancarkan harmoni antara alam dan bangunan—sebuah prinsip yang lazim mewarnai arsitektur Tionghoa klasik.
4. Kelenteng Talang: Monumen Persilangan Budaya
Tempat peristirahatan spiritual Sam Cai ini adalah bukti paling nyata. Awalnya, Kelenteng Talang merupakan Masjid Talang yang dibangun oleh komunitas Tionghoa Muslim.
Struktur Atap: Bangunan ini tetap mempertahankan bentuk atap melengkung khas Tiongkok, meskipun fungsinya mengalami perubahan seiring berjalannya waktu.
Arsitektur sebagai Simbol Toleransi
Pengaruh arsitektur ini membuktikan bahwa era Tan Sam Cai adalah masa sinkretisme budaya yang produktif. Cirebon tidak hanya membangun gedung, tetapi membangun identitas visual yang menyatukan unsur pribumi, Islam, dan Tionghoa dalam satu harmoni.***













