SUMEDANG, Wplus62.com – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 H, tradisi munggahan atau botram mulai menyemarakkan berbagai penjuru daerah.
Namun, Pimpinan Umum Pesantren Islam Internasional Terpadu Asy-Syifaa Wal Mahmuudiyyah, KH. Muhammad Muhyiddin Abdul Qodir al Manafi (Abuya), mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak pada euforia makan-makan semata.
Abuya menjelaskan bahwa esensi munggahan berasal dari kata bungah (bahagia). Menurutnya, umat Islam harus menghadirkan rasa syukur yang mendalam karena berkesempatan bertemu kembali dengan anugerah istimewa dari Allah SWT.
Siaga Satu Amal Saleh
Menyambut bulan penuh ampunan ini, Abuya menginstruksikan umat untuk memasang status “Siaga Satu” dalam beribadah. Ia mendorong jamaah untuk meningkatkan intensitas amal saleh melampaui standar hari biasanya.
“Umat harus memperbanyak ibadah sunah setelah menunaikan yang fardhu. Jauhi hal-hal makruh setelah kita berhasil meninggalkan yang haram,” tegas Abuya dalam pesan menyambut Ramadan 1447 H di Pamulihan.
Beberapa poin penting yang Abuya tekankan untuk mengisi hari-hari Ramadan antara lain:
- Literasi Al-Qur’an: Meningkatkan frekuensi membaca dan mentadabbur ayat suci.
- Zikir & Sholawat: Memperbanyak bacaan sholawat masyhur dan doa di waktu mustajab (sahur, puasa, dan berbuka).
- Makmurkan Masjid: Kaum laki-laki harus memadati masjid dan memulai iktikaf sejak awal bulan, bukan hanya di sepuluh hari terakhir.
Waspada Dosa Media Sosial
Di era digital, Abuya secara khusus menyoroti perilaku netizen. Beliau memperingatkan umat agar berhati-hati dalam memproduksi atau membagikan konten di media sosial.
“Hindari gibah, fitnah, dusta, hingga sumpah palsu yang dapat menghanguskan pahala puasa,” pesannya. Beliau juga menyarankan umat memiliki waktu khusus untuk khalwat atau menyepi guna mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Meluruskan Niat: Puasa Bukan Diet
Abuya juga menyinggung soal kemurnian niat. Beliau meminta umat agar tidak menjadikan puasa sebagai sarana diet atau tujuan duniawi lainnya.
“Niatkan murni menjalankan perintah Allah dan mencari rida-Nya. Jika hati yang kita utamakan, maka urusan dunia akan mengikuti,” jelasnya.
Menutup pesannya, Abuya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling mendoakan agar meraih kualitas ibadah terbaik. Ia berharap Ramadan tahun ini tidak hanya menjadi soal urusan perut, menu buka puasa, atau baju baru, melainkan momentum transformasi hati menuju kesalehan yang hakiki.***













