Berita Terkini

Dibalik Bersatunya Sunda-Galuh Pajajaran: Tahta Sepeninggalan Sri Baduga Prabu Siliwangi

Peta Padjadjaran

W+62.COM– Pajajaran dibentuk pada 1482 dengan melengserkan dua Raja dari Kerajaan Galuh dan Sunda kemudian menobatkan Sri Baduga Maharaja menjadi Raja dari dua Raja yang disatukan.

google.com, pub-8153276152069332, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Sri Baduga Maharaja adalah Putra Mahkota Kerajaan Galuh, sebagai Raja di Negara yang disatukan, disetujui oleh Raja Sunda. Bukan tanpa syarat, tetapi harus menikahi Kentring Manik Mayang Sunda, putri dari Raja Sunda.

google.com, pub-8153276152069332, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Sri Baduga Maharaja disertai ketetapan, nantinya keturunan yang lahir dari Kentring Manik Mayang Sunda itulah yang akan menjadi pewaris tahta Kerajaan Pajajaran.

Bersatunya kembali kerajaan Galuh dan Sunda dengan membentuk Pajajaran memang memperkuat kerajaan itu, tapi persatuan juga rupanya memantik konflik baru, sebab tiga Pangeran yang sejatinya layak menjadi Raja tampil dengan ambisinya masing-masing.

Para Pangeran yang dimaksud adalah Amuk Marugul, Walangsungsang atau  Cakrabuana dan Surawisesa.

Ketetapan rancangan dan penyatuan Kerajaan Galuh-Sunda yang diprakarsai para Pandita dan Resi yang ada di kedua kerajaan itu, memang terlihat adil dan memuaskan kedua belah pihak. Tapi ternyata, dengan begitu ada dua pangeran yang terluka hatinya.

Baca Juga  Jejak Sejarah Kerajaan Pajajaran: Dari Prabu Siliwangi hingga Perpecahan Pasir Luhur dan Dayeuhluhur

Dua Pangeran yang sebelumya telah ditetapkan menjadi Putra Mahkota atau Raja Muda di Kerajaan Sunda dan Galuh, yaitu Amuk Marugul dan Walangsungsang.

Ilustrasi putra Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi, Amuk Marugul

Memilih Bergeser dari Istana 

Amuk Marugul adalah Putra Mahkota dari Kerajaan Sunda (Kakak Kentring Manik Mayang Sunda) sebelum kerajaan itu disatukan dengan Galuh.

Dirajakannya Sri Baduga Maharaja membuat Amuk Marugul yang dikenal sebagai raja muda yang cerdas dan cakap dalam berperang ini, membuat ia muak, dan menjadi pengkritik setiap kebijakan Sri Baduga.

Apalagi sejak muda Amuk Marugul berkali-kali terlibat persaingan dengan Sri Baduga Maharaja ketika keduanya sama-sama menjadi Raja Muda di Kerajaan Sunda dan Galuh.

Pada akhirnya, Amuk Marugul memilih menyingkir dari Istana dengan meminta wilayah paling timur kekuasaan Pajajaran, yaitu meminta hak menjadi Raja di Japura, sebuah Nagari yang menjadi benteng/perbatasan antara Sunda dan Jawa.

Baca Juga  Perang Bubat, Majapahit vs Pajajaran: Dampaknya Bagi Pernikahan Jawa-Sunda

Mungkin, bagi Amuk Marugul, dengan menjadi Penguasa terluar (terasing) di wilayah timur Pajajaran, ia tidak lagi merasa menjadi bawahan Sri Baduga, saingan masa mudanya yang berjuluk Siliwangi itu. Ia merasa nyaman karena jauh dari pantauannya.

Selepas menjadi Raja Japura, perbatasan Sunda -Jawa, yang sejak zaman Gajah Mada dikenal angker dan tidak mudah dimasuki oleh orang-orang Jawa yang mengemban misi, sebagai Teliksandi dan tentara itu, kini menjelma menjadi wilayah perbatasan yang ramah pada orang-orang Jawa.

Negeri Japura adalah negeri yang mula-mula menjadi sekutunya orang Jawa (Demak), hal ini dikabarkan sendiri oleh Tome Pires, Apoteker Portugis yang mengunjungi  Jawa pada 1513.

Ilustrasi Raden Walangsungsang yang dikenal berjuluk Cakrabuana memilih ke kampung halaman Ibunya, Subang Larang ke Mertasinga

Walangsungsang Membangun Mertasinga

Sedikit berbeda dengan gerakan politik yang dimainkan oleh Amuk Marugul,  Walangsungsang yang merupakan anak dari Sri Baduga Maharaja mulanya tidak berani melawan kehendak ayahnya. Meski ia juga akhirnya keluar dari Istana, ia cenderung masih menunjukan bakti pada ayahnya.

Baca Juga  Jejak Sejarah Kerajaan Pajajaran: Dari Prabu Siliwangi hingga Perpecahan Pasir Luhur dan Dayeuhluhur

Selepas meninggalkan Istana, Walangsungsang yang dikemudian hari berjuluk Cakrabuana ini, lebih memilih tinggal dikampung halaman Ibunya (Subang Larang), yaitu di Negeri Singapura (Mertasinga), sebuah kerajaan bawahan Pajajaran yang sebetulnya  berbatasan dengan wilayah Kerajaan Japura.

Selepas kakakenya (Penguasa Singapura) wafat, Walangsungsang rupanya mendapatkan hak waris, yaitu menjadi penguasa baru di Negeri itu. Namun sang Pangeran rupanya memutuskan Singapura dibubarkan, ia menggunakan harta dan hak warisnya itu membentuk negeri baru lengkap dengan kekuatan bersenjata yang otonom.

Kelak Negeri baru yang dibangun oleh Walangsungsang itu dinamai “Cirebon”.  Berlalunya waktu, sama Seperti Japura, Cirebon menyatakan merdeka dari Pajajaran.

Kini, Japura dan Cirebon menjadi dua wilayah yang saling bekerja sama dengan status sama tinggi menjadi negara berdaulat.

Selepas mangkatnya Sri Baduga Maharaja pada 1521, dan dinobatkanya Sang Surawisesa menjadi Raja Pajajaran selanjutnya.

Konflik antar Japura-Cirebon versus Pajajaran tidak dapat dielakan, perang besar yang melibatkan ketiga  Pangeran keturunan Raja-Raja Sunda itu meletus dengan dahsyat.

Baca Juga  Sepenggal Kisah Mahaprabu Niskala Wastu Kancana: Raja Agung Kerajaan Sunda-Galuh

Kedua belah pihak juga sama-sama meminta bantuan negara asing. Japura dan Cirebon menarik Demak dalam pusaran konflik, sementara Pajajaran memilih berskutu dengan Portugis.

Perang besar tersebut benar-benar sebagai pembuktian, siapa sebetulnya yang layak menjadi Penguasa di tatar Pasundan, Amuk Mrugul,  Walangsungsang ataukah Surawisesa..?

Ilustrasi putra Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi, Prabu Surawisesa

Surawisesa Sudahi Konflik

Namun, dalam kecamuk perang Saudara yang ditunggangi kepentingan politik global itu, perang tidak juga usai meski Amuk Marugul dan Walangsungsang wafat karena usia yang tua.

Akhirnya, Surawisesa yang telah paham begitu nelangsanya rakyat akibat perang saudara, memilih menyudahi konflik, menawarkan aksi penghentian perang, sehingga pada Tanggal 14 Paro Terang Bulan Asadha Tahun 1453 Saka (12 Juni 1531).

Raja Pajajaran kedua itu mengirimkan sepucuk surat ajakan damai pada Sunan Gunung Jati yang tak lain sebagai pengganti Penguasa Japura dan Cirebon yang telah wafat. Sehingga dari ajakan damai itu nantinya disepakati perjanjian damai antara kedua belah pihak.

Baca Juga  Mengenal Raden Aria Wangsa Goparana, Jejak Keturunan Prabu Siliwangi dan Kerajaan Sumedang Larang

Dalam surat ajakan damai itu, Surawisesa membubuhkan kata-kata: “Kedua-belah pihak saling mengakui kedaulatan masing-masing, tidak saling menyerang, silih asih.  Kedua-belah pihak mengakui sederajat dan bersaudara sebagai sesama ahli waris (seuweu-siwi) Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi), sedarah janganlah putus”.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SELAMAT IDUL FITRI 1447 H Wilayah Sumedang & Sekitarnya
🕌

Taqabbalallahu Minna wa Minkum

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin

🕌
Subuh -
Dzuhur -
Ashar -
Maghrib -
Taqabbalallahu Minna wa Minkum Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H untuk Warga Sumedang Mohon Maaf Lahir dan Batin dari Redaksi Wplus62.com Semoga Amal Ibadah Kita Diterima