MADINAH, W+62.com–Jemaah haji asal Sumedang yang tergabung dalam Kloter 17 KJT diminta untuk segera check out dari hotel tempat mereka menginap di Madinah, Arab Saudi. Para jemaah diberi batas waktu hingga pukul 17.00 Waktu Arab Saudi (WAS) untuk meninggalkan hotel pada Minggu (29/6/2025).
Hal itu tentu saja menambah deretan kekecewaan yang dialami jemaah selama menjalankan ibadah haji tahun ini.
Dimulai dari jadwal makan, penundaan kepulangan dan sejumlah aturan yang berubah-ubah, tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Sontak, saat ini membuat kondisi ini menambah kepenatan dan tekanan mental para jemaah yang sudah lelah secara fisik dan psikis pasca-beribadah selama lebih dari satu bulan.
Ketidakjelasan informasi dan keputusan mendadak membuat banyak jemaah merasa tidak dihargai dan terkesan diusir secara halus.
Salah seorang jemaah asal Sumedang, H.M. Yasin, menyampaikan kekecewaannya atas kondisi yang terus berulang ini. Ia menilai pelayanan dan komunikasi selama ibadah haji tahun ini sangat buruk.
“Dari awal memang sudah amburadul. Aturan nusuk (platform digital haji) tidak dijelaskan, lalu peran syarikah juga tidak kami pahami, dan sekarang jelang pulang malah delay, bahkan hari ini mendadak diminta keluar hotel tanpa penjelasan jelas. Kami jemaah merasa seperti tidak dihargai,” ujarnya dengan nada kecewa.
Menurut dia, ketidakjelasan informasi ini membuat banyak jemaah mengalami tekanan psikologis sejak awal perjalanan. “Wajar kalau banyak yang stres dari awal. Kurang arahan, komunikasi tidak lancar, dan pelayanan kurang manusiawi,” tambahnya.
Harapan Perbaikan Layanan Haji
Ia pun berharap pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Agama RI, melakukan perbaikan signifikan dalam penyelenggaraan haji ke depan.
“Panitia harus dipilih lebih selektif lagi, jumlah petugas harus ditambah. Dan terpenting harus ada yang bisa bahasa Arab untuk komunikasi dengan pihak Arab Saudi,” tegasnya.
Kemudian, sambung M. Yasin, butuh juga ahli sosiologi dan psikologi karena kondisi mental jemaah tidak bisa dianggap remeh. Begitu juga dengan Tim kesehatan, idealnya adalah mereka yang pernah berhaji.
“Hal itu, agar mereka tahu secara langsung bagaimana menangani jemaah dalam kondisi lemah atau sakit,” harapnya.
Hingga berita ini diturunkan, para jemaah terpaksa menunggu di area luar hotel sambil menanti kejelasan tempat transit atau akomodasi lanjutan hingga waktu keberangkatan yang baru, yakni Senin, (30/6/2025).
Situasi ini menunjukkan bahwa perlunya evaluasi menyeluruh dalam manajemen keberangkatan dan pemulangan jemaah haji. Sebab, selain fisik yang lelah, hak kenyamanan dan informasi yang layak juga merupakan bagian penting dari pelayanan haji yang bermartabat.***
