EDITORIAL — Tepat 5 Februari 2026, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) genap menginjak usia 79 tahun. Hampir delapan dekade organisasi berbaju hijau-hitam ini berdiri. Jika ini adalah usia manusia, HMI seharusnya sudah menjadi kakek bijak yang khatam soal arah bangsa, bukan lagi remaja yang hobi tawuran di kongres atau sibuk berebut “kue” di lingkaran kekuasaan.
Sebagai organisasi mahasiswa tertua dan terbesar, sejarah HMI adalah sejarah Indonesia. Dari urusan mempertahankan kemerdekaan hingga urusan mengisi kursi menteri, kader HMI selalu ada.
Namun, di hari bahagia ini, mari kita letakkan sejenak kopi pahit di sekretariat dan bicara jujur: Apakah HMI masih relevan, atau hanya sekadar menjadi fosil kejayaan masa lalu?
Jangan Jadi “Zombie” Akademis
Kita harus mengakui bahwa hari ini, sebagian kader lebih lincah melobi senior daripada membaca literatur. Kita melihat fenomena menyedihkan di mana intelektualitas digantikan oleh intrik-intrik pragmatis.
- Latihan Kepemimpinan (LK) atau Latihan Lobi? Banyak kader yang lulus LK II tapi gagap bicara isu global seperti AI Ethics atau Climate Change. Mereka lebih hafal struktur pengurus PB daripada struktur ekonomi makro.
- Euforia Alumni: HMI seringkali terjebak dalam romantisme “KAHMI-sentris”. Mahasiswa baru masuk HMI bukan karena haus ilmu, tapi karena ingin jalur cepat mendapatkan pekerjaan lewat koneksi senior. Ini bukan organisasi perkaderan, ini namanya biro jasa penyalur kerja berbaju religius!
- Tradisi Demo yang “Loyo”: Dulu, teriakan HMI membuat rezim gemetar. Sekarang? Demo seringkali hanya jadi ajang selfie atau, lebih buruk lagi, alat tawar menawar untuk kepentingan receh.
Humor di Balik Baret Hijau
Jangan tersinggung dulu. Kita semua tahu, ciri khas kader HMI adalah kemampuannya berdebat sampai subuh hanya untuk menentukan siapa yang berhak beli gorengan. Retorika kita melangit, tapi aksi kita seringkali mendarat darurat di warung kopi terdekat.
Kita sering mengaku “Intelek”, tapi skripsi masih minta bantuan jasa joki. Kita teriak “Islam”, tapi subuh sering terlewat karena habis “rapat koordinasi” (baca: begadang tak jelas) sampai jam tiga pagi. Mari tertawakan diri sendiri, sebelum masyarakat yang menertawakan kita.
Transformasi atau Mati!
Untuk tetap eksis di usia menuju satu abad, HMI tidak bisa hanya mengandalkan nama besar Lafran Pane. Berikut beberapa langkah nyata:
Digitalisasi Gerakan: Berhentilah hanya mengandalkan pamflet fotokopian. HMI harus menguasai algoritma, bukan hanya dikuasai olehnya.
Kembali ke Literasi: Hidupkan kembali diskusi-diskusi berat yang solutif. Jadikan komisariat sebagai laboratorium ide, bukan sekadar tempat tidur siang.
Independensi Etis: Dekat dengan kekuasaan itu boleh, tapi menjadi “pemuja” kekuasaan adalah haram hukumnya bagi kader yang katanya memiliki nilai-nilai dasar perjuangan (NDP).
Kesimpulan
Selamat Milad ke-79, Himpunan Mahasiswa Islam. Harapan kami tetap besar. Jadilah matahari yang menyinari, bukan lilin yang ditiup angin politik sedikit saja langsung padam. HMI harus kembali menjadi garda terdepan perubahan, bukan sekadar pelengkap ornamen demokrasi.
Yakin Usaha Sampai! Tapi ingat, usahanya harus benar, bukan sekadar yakin tapi diam di tempat.***
