Berita Terkini

Nestapa WNI di Kamboja: Ujang Solihin Akhirnya Kembali ke Sumedang Usai Disekap Sindikat Judi Online

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sumedang, Taufik Hidayat Slamet bersama Ujang Solihin tenaga migran di Kamboja yang berhasil pulang ke Sumedang
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sumedang, Taufik Hidayat Slamet bersama Ujang Solihin tenaga migran di Kamboja yang berhasil pulang ke Sumedang.

SUMEDANG, Wplus62.com – Ujang Solihin, warga Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, akhirnya menghirup udara segar di tanah kelahirannya. Ia berhasil pulang ke pelukan keluarga pada Jumat (5/6/2026) setelah sempat terjebak dalam jaringan online scam dan judi online di Kamboja selama hampir dua tahun.

Kepulangan Ujang menjadi bukti nyata gerak cepat pemerintah dalam memberikan perlindungan bagi warganya. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sumedang, Taufik Hidayat Slamet, mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi intensif dengan berbagai pihak untuk memulangkan Ujang.

“Sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam memberikan perlindungan kepada warga Sumedang, kami segera melakukan pendampingan setelah menerima informasi tersebut. Akhirnya, Ujang bisa kembali berkumpul dengan keluarganya,” ujar Taufik, Rabu (10/6/2026).

Awal Mula Petaka: Dijanjikan Kerja, Berakhir Jadi Korban Penyiksaan

Nasib nahas yang menimpa Ujang bermula pada September 2024. Saat itu, ia berangkat ke Kamboja atas ajakan seorang temannya dengan iming-iming pekerjaan sebagai koki di Poipet. Sayangnya, kontrak kerja tersebut berakhir setelah empat bulan dan tidak diperpanjang.

Alih-alih pulang, Ujang justru mencoba peruntungan baru melalui bantuan temannya. Pada Februari 2025, ia ditawari pekerjaan di perusahaan bernama New Golden. Harapan bekerja sebagai koki pun sirna seketika. Ujang justru dipaksa menjadi operator online scam dan judi online.

“Saya dipaksa bekerja, tidak digaji, dan terus diancam,” ungkap Ujang.

Situasi semakin mencekam ketika Ujang meminta istrinya melapor ke KBRI. Bukannya mendapat perlindungan, laporan tersebut justru bocor ke pihak pengelola scam. Akibatnya, Ujang harus menanggung derita hebat: ia disiksa, disetrum, hingga dipukuli. Para pelaku bahkan mengancam keluarga Ujang di Indonesia dan meminta tebusan sebesar US$ 3.000 jika pihak keluarga tidak mencabut laporan.

Hilang Kontak dan Penyelamatan Dramatis

Penderitaan Ujang berlanjut pada Juli 2025 ketika ia dijual ke perusahaan lain di daerah Crey Thum. Sejak saat itu, Ujang hilang kontak dengan keluarga selama sepuluh bulan.

Harapan baru muncul pada Maret 2026, ketika kepolisian Kamboja menggerebek lokasi tempat Ujang disekap. Setelah berhasil keluar dari cengkeraman sindikat, Ujang segera melapor ke KBRI untuk mengurus Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP).

Disnakertrans Sumedang kemudian berkolaborasi dengan BAZNas Sumedang, BAZNas Provinsi Jawa Barat, serta LTSA PMI Jawa Barat untuk menuntaskan proses pemulangan dan pengadaan tiket perjalanan.

Peringatan Keras Bagi Pencari Kerja

Belajar dari kasus ini, Taufik Hidayat Slamet mengimbau masyarakat Sumedang agar lebih waspada terhadap tawaran pekerjaan dengan imbalan gaji tinggi, terutama jika prosedurnya tidak jelas.

“Pastikan selalu mencari informasi lowongan kerja melalui jalur resmi. Segera konsultasikan dengan Disnakertrans sebelum menerima tawaran kerja, khususnya untuk penempatan luar daerah maupun luar negeri,” tegasnya.

Kisah Ujang Solihin menjadi pengingat pahit bagi para pencari kerja agar tidak mudah tergiur bujuk rayu calo tenaga kerja ilegal. Kini, Ujang tengah menjalani masa pemulihan bersama keluarga di Cimanggung, menutup lembaran kelam yang hampir merenggut nyawanya di negeri orang.***

Exit mobile version