Berita Terkini

HUT ke-64 PWRI Sumedang: Menolak “Pensiun” Mendedikasikan Diri untuk Negeri

Wakil Bupati Sumedang, M. Fajar Aldila dalam Peringatan HUT ke-64 PWRI Kabupaten Sumedang di Villa Brigjen Udin Supidin Cimalaka

SUMEDANG, Wplus62.com – Purnatugas Yes, Purnabakti No! Pekik semangat itu bergema di Villa Brigjen (Purn.) Udin Supidin, Mandalaherang, Cimalaka, Minggu (26/7/2026). Ratusan purnawirawan dan purna-ASN yang tergabung dalam Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Sumedang berkumpul merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-64 PWRI.

Perayaan ini bukan sekadar ajang bernostalgia, melainkan sebuah pembuktian tegas: masa pensiun bukanlah akhir pengabdian, melainkan babak baru untuk terus membangun daerah.

Kemeriahan perayaan yang lahir dari swadaya gotong royong anggota ini dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Sumedang M. Fajar Aldila, mantan Bupati Sumedang H. Misbach, jajaran Forkopimda, serta tokoh-tokoh daerah. Suasana hangat menyelimuti lokasi acara ketika H. Misbach menyerahkan batu akik dan jam tangan kepada Ketua PWRI Sumedang, H. Zaenal Alimin, sebagai simbol penghormatan atas dedikasi tanpa batas.

Pengalaman adalah Aset, Bukan Beban

Ketua PWRI Kabupaten Sumedang, H. Zaenal Alimin, menegaskan bahwa usia lanjut dan status purnatugas sama sekali tidak mengikis nilai strategis para pensiunan. Menurutnya, pengalaman puluhan tahun yang dimiliki anggota PWRI merupakan “harta karun” pembangunan yang tidak boleh disia-siakan.

“Seseorang memang berhenti dari tugas kedinasan sesuai aturan negara, tetapi pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara tidak boleh berhenti selama hayat masih dikandung badan,” pangkas Zaenal membakar semangat para senior.

Ia menjelaskan bahwa PWRI mengusung sistem stelsel pasif—setiap purna-ASN, pegawai BUMN, BUMD, hingga perangkat desa secara otomatis menjadi keluarga besar PWRI. Meski jumlah pasti anggotanya terus bertumbuh, spirit gotong royong mereka tak pernah padam. Terbukti, perhelatan megah ini murni bergerak atas partisipasi mandiri para anggota dan donatur.

Tak hanya pasif berorganisasi, PWRI Sumedang terus bergerak aktif lewat berbagai aksi nyata. Mulai dari menggerakkan Sekolah Lansia untuk menjaga kesehatan dan kemandirian, menggelar pengajian bulanan rutin bersama Baznas yang menyedot lebih dari 90 peserta tiap sesi, hingga menerjunkan anggotanya di berbagai lembaga sosial seperti PMI, MUI, dan DKM.

Pemerintah Butuh Kompas Moral Para Sesepuh

Semangat membara dari para purnawirawan ini mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Kabupaten Sumedang. Wakil Bupati Sumedang, M. Fajar Aldila, terang-terangan menyebut bahwa pemerintah daerah sangat membutuhkan bimbingan dan doa dari para senior.

Di tengah kompleksnya tantangan zaman dan ancaman masalah sosial anak muda, Fajar menilai PWRI memegang peranan kunci sebagai penyeimbang dan pengayom masyarakat.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Kami sangat membutuhkan teladan dan bimbingan para sesepuh untuk mentransformasi generasi muda agar terhindar dari pergaulan bebas dan kriminalitas,” tutur Fajar.

Energi Tanpa Batas Kerukunan Wanita Wredatama

Keriuhan dan keceriaan perayaan semakin memuncak saat Kerukunan Wanita Wredatama (Kerta Wredatama) tampil memukau panggung acara. Setelah menempuh latihan tekun selama hampir satu tahun, para lansia ini menampilkan pertunjukan seni yang enerjik dan penuh pesona, membuktikan bahwa jiwa muda tak pernah pudar oleh usia.

Tausiah, penyerahan penghargaan, dan sesi ramah tamah makin menghidupkan suasana perayaan. Rangkaian acara ini mematrikan pesan kuat ke tengah publik bahwa bertambahnya usia tidak akan pernah menghentikan kontribusi para pensiunan untuk membangun Sumedang Simpati. PWRI telah membuktikan bahwa mereka bukan sekadar saksi sejarah, melainkan pelaku sejarah yang terus memberi manfaat bagi sesama.***

Exit mobile version