SUMEDANG, Wplus62.com – Asosiasi Penggiat Anggur Indonesia (ASPAI) Kabupaten Sumedang membakar semangat ratusan mahasiswa untuk menggeluti bisnis pertanian modern. Sebanyak 119 mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta membedah rahasia budidaya buah bernilai ekonomi tinggi ini dalam pelatihan bertajuk “Teknik Praktis & Sukses Bisnis Pertanian Masa Kini”, Sabtu (25/7/2026).
Pelatihan strategis tersebut berlangsung di Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Dayangsumbi, Lingkungan Pacuan Kuda, Kelurahan Kotakaler, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang.
Sejumlah pejabat daerah turut hadir memberikan dukungan penuh, di antaranya perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Sumedang, Lurah Talun, Lurah Kotakaler, serta puluhan praktisi budidaya anggur se-Kabupaten Sumedang.
Sumedang Garap Potensi Anggur Bernilai Ekonomi High-End
Ketua DPD ASPAI Kabupaten Sumedang, H. Egi Zaenal Mutaqin, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi batu loncatan penting untuk mengenalkan peta potensi pertanian modern Sumedang kepada generasi muda. Menurutnya, sektor pertanian tak lagi identik dengan kerja kasar yang kurang menjanjikan, melainkan industri bisnis yang sangat profitabel.
“Hari ini kami menerima kunjungan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang tertarik melihat langsung bagaimana budidaya anggur berkembang pesat di Sumedang. Tempat ini sekaligus menjadi pusat penggerak dan sekretariat komunitas penggiat anggur,” ujar Egi di lokasi kegiatan.
Egi menceritakan, penggiat lokal awalnya mengimpor bibit anggur berkualitas unggul dari luar daerah. Setelah itu, mereka melakukan uji tanam dan adaptasi secara mandiri di tanah Sumedang.
“Alhamdulillah, hanya dalam waktu tujuh bulan setelah tanam, hasilnya sangat memuaskan. Pohon tumbuh subur dan produktif berbuah. Dari fase pembuangan hingga buah matang siap panen, petani hanya membutuhkan waktu sekitar 100 sampai 120 hari,” jelasnya tajam.
Saat ini, gerakan menanam anggur di Sumedang terus membesar. Data ASPAI mencatat lebih dari 300 petani aktif telah membudidayakan anggur yang tersebar di belasan kecamatan.
Egi pun menyerukan agar masyarakat Sumedang segera mengoptimalkan pekarangan rumah menggunakan metode Tabulampot (Tanaman Anggur dalam Pot).
“Masyarakat harus mulai realistis. Daripada memenuhi pekarangan dengan tanaman hias biasa, lebih baik menanam anggur pot yang produktif dan bernilai jual tinggi. Satu pot anggur sanggup menghasilkan 5 hingga 6 kilogram buah segar,” tegas Egi.
Secara kalkulasi bisnis, harga anggur kualitas premium di pasaran menembus angka Rp80.000 hingga Rp100.000 per kilogram. Dengan demikian, satu pot tanaman anggur mampu menyumbang omzet bersih sekitar Rp500.000 dalam sekali panen.
Keberhasilan teknik ini bahkan memikat pejabat Pemkab Sumedang. Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Sumedang kini turut menyulap pekarangan rumahnya menjadi kebun anggur mini.
“Kami menargetkan Sumedang menjadi sentra industri anggur baru di Jawa Barat. Kita ingin mendorong petani naik kelas—beralih dari tanaman sayuran bernilai rendah menuju komoditas buah bernilai tinggi,” pungkas Egi.
Inovasi Wisata Petik & Sewa Pot Anggur di Lahan Sempit
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Sumedang, H. Ayuh Hidayat, membagikan pengalamannya menjajaki bisnis agribisnis ini usai menerima bibit dari DPD ASPAI.
“Awalnya Pak Egi memberi saya 14 bibit pohon anggur dalam polybag. Karena tidak memiliki lahan luas, saya memutar otak dan menanamnya di pot. Lu Lu biasa, seluruhnya tumbuh sangat subur,” puji Ayuh.
Melihat fakta lapangan dan keberhasilan para petani binaan ASPAI, Ayuh meyakini agribisnis anggur menyimpan prospek finansial yang sangat menggiurkan.
“Petani anggur di Sumedang sudah membuktikan hasil konkretnya. Sekali panen, mereka mampu mengantongi pendapatan hingga puluhan juta rupiah,” ungkapnya.
Guna melipatgandakan keuntungan, Ayuh merancang kombinasi konsep agrowisata dan komersialisasi pot di atas lahan terbatas.
“Lahan yang saya pakai hanya sekitar 25 meter persegi. Namun dengan sistem pot, efisiensi pengelolaan sangat tinggi. Selain membuka wisata petik anggur langsung di tempat, kita bisa menerapkan sistem sewa pot. Misalnya satu pot disewakan Rp200.000, dalam tempo satu minggu pembeli bisa menikmati pengalaman memetik buahnya sendiri sampai habis,” paparnya detail.
Selaku pembina UMKM daerah, Ayuh mendorong para pelaku usaha lokal agar berani merambah ke sektor agribisnis dan tidak hanya bertumpu pada industri olahan makanan semata.
Ke depan, pihaknya menyyiapkan skema penyerapan hasil panen anggur masyarakat melalui jaringan koperasi daerah untuk memasok kebutuhan pasar modern dan program pemenuhan pangan pemerintah.
“Jika produksi anggur rakyat sudah stabil, koperasi siap menjadi offtaker resmi dengan jaminan harga yang pasti. Ini peluang emas yang wajib kita eksekusi bersama,” tutup Ayuh.
Melalui sinergi antara DPD ASPAI Sumedang, akademisi UIN Sunan Kalijaga, dan Pemkab Sumedang, pelatihan ini diharapkan melahirkan agropreneur muda yang siap menggerakkan roda ekonomi daerah berbasis pertanian presisi bernilai tinggi.***
