SUMEDANG, Wplus62.com-– Pemerintah Kabupaten Sumedang resmi menancapkan tonggak sejarah baru di dunia pendidikan nasional. Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, secara resmi membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi 501 siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Sumedang di Kampus Sekolah Rakyat, Desa Keboncau, Kecamatan Ujungjaya, pada Selasa (14/7/2026).
Langkah ini sekaligus menandai dimulainya perjalanan para peserta didik untuk beradaptasi dengan atmosfer akademik baru sebelum mereka memasuki proses pembelajaran formal.
Menampung Siswa dari Tasikmalaya dan Garut
Menariknya, SRT 1 Sumedang tidak hanya melayani anak-anak lokal. Sekolah ini juga menunjukkan aksi solidaritas antardaerah dengan menampung 60 siswa asal Kota Tasikmalaya dan 30 siswa dari Kabupaten Garut.
Selanjutnya, para siswa dari luar daerah tersebut akan menimba ilmu untuk sementara waktu di Sumedang. Kebijakan ini menyusul proses pembangunan fasilitas Sekolah Rakyat di daerah asal mereka yang saat ini masih berjalan.
“Sekolah Rakyat Sumedang menjadi pelopor penyelenggaraan MPLS bagi Sekolah Rakyat di Indonesia. Kami juga menyambut pelajar dari Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Garut karena sekolah mereka masih dalam tahap pembangunan,” ujar Person in Charge (PIC) SRT 1 Sumedang, Herman Koswara.

Misi Besar Memutus Rantai Kemiskinan
Sementara itu, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menegaskan bahwa program Sekolah Rakyat merupakan gagasan langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Program strategis ini bertujuan untuk membuka akses pendidikan yang setara dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Dony menekankan bahwa faktor ekonomi sama sekali tidak boleh menjadi penghalang bagi anak bangsa untuk meraih cita-cita.
“Semua warga Indonesia memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Tidak boleh satu orang pun warga negara ini kehilangan masa depannya. Sekolah Rakyat hadir justru untuk memotong mata rantai kemiskinan,” tegas Dony di hadapan ratusan siswa.

Adaptasi sebagai Kunci Awal Kelulusan
Oleh karena itu, Dony menilai pelaksanaan MPLS ini sebagai fase krusial bagi perkembangan psikologis dan sosial siswa. Melalui kegiatan ini, para siswa baru dapat mempercepat proses adaptasi lingkungan, membangun pertemanan, serta memahami sistem kehidupan berasrama di Sekolah Rakyat.
“Hari ini anak-anak mulai menjemput masa depannya melalui kegiatan MPLS. Ini penting agar mereka bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan cepat,” tambahnya.
Pada akhirnya, Pemerintah Kabupaten Sumedang menaruh harapan besar agar SRT 1 Sumedang tidak sekadar menjadi pionir pendidikan berasrama (boarding school). Lebih dari itu, sekolah ini harus bertransformasi menjadi role model dalam menyajikan layanan pendidikan inklusif yang menyatukan anak-anak dari berbagai latar belakang daerah di Indonesia.***













