SUMEDANG, W+62.COM– Rapat Koordinasi Publikasi Data Stunting Tahun 2025 digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang di Ruang Rapat Tadjimalela BAPERIDA Kabupaten Sumedang pada Selasa (21/10/2025).
Acara dihadiri oleh organisasi masyarakat bidang kesehatan, organisasi sosial, organisasi keagamaan dan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Dikdik Sadikin.
Dalam sambutannya, Dikdik menegaskan komitmennya untuk terus melakukan upaya penurunan angka stunting di Kabupaten Sumedang. Menurutnya, hal itu merupakan tugas terpenting untuk mencapai visi Sumedang semakin Simpati dan Generasi Emas 2045.
“Stunting merupakan program prioritas pemerintah pusat. Oleh karena itu melalui berbagai kegiatan inovasi kita lakukan berbagai upaya dalam menurunkan angka stunting,” katanya.
Namun demikian, Dikdik juga mengakui masih belum optimalnya layanan serta cakupannya terutama untuk pendataan yang lebih akurat lagi. Oleh sebab itu kedepan kita berupaya akan lebih meningkatkan kapasitas petugas lapangan dalam upaya menurunkan angka stunting.
Kadinkes Sumedang itu menuturkan, kelemahan yang dihadapi itu ditemukan dari laporan yang disampaikan salah satunya terdapat kesalahan input dalam aplikasi.
“Kami menemukan kesalahan dalam menginput data, contohnya saja ditemukan adanya penurunan tinggi badan. Kan tidak mungkin tinggi badan menurun, namun kalau berat badan itu masih dimengerti,” tandasnya.
Nilai Stunting Turun Meskipun Tak Signifikan
Secara garis besar pada tahun 2025 ini, hasil presentase stunting di Kabupaten Sumedang untuk Balita (0-59 bulan) yaitu 6,74%, lebih rendah dari tahun sebelumnya (2021-2024).
Sedangkan untuk Baduta (0-23 bulan) di Kabupaten Sumedang 4,26%, hasil persentase itu menunjukkan stunting pada Baduta mengalami penurunan sebesar 5% dibandingkan tahun sebelumnya.
“Sajian data stunting 2025 ini, diambil berdasarkan Data Sigizi Kesga tanggal 30 September, dengan jumlah sasaran balita di Sumedang 68.873, sedangkan balita yang diukur sebanyak 68.605 dengan persentase 99,61%,” ungkap Kabid Kesmas Dinkes Sumedang, drg.Hana Zaitunah Fuadi.
Adapun, sambung drg.Hana, sebaran balita dengan kasus stunting menunjukkan dua kecamatan dengan persentase kasus stunting tertinggi di Kecamatan Jatigede (10,92%) dan Kecamatan Ujungjaya (9,36%).
“Untuk kecamatan dengan kasus stunting terendah yaitu Kecamatan Wado (3,13%),”ujarnya.
Kabid Kesmas Dinkes Sumedang itu mengatakan, sebagian kecamatan menunjukkan penurunan persentase stunting. “Tercatat hanya 5 kecamatan yang mengalami kenaikan kasus stunting yakni; Sukasari, Cisitu, Darmaraja, Paseh dan Buahdua,” katanya.
Tindakan dan Upaya
Ia menyebutkan pula, jika Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang melalui UPTD Puskesmas telah melakukan berbagai tindakan terhadap balita yang teridentifikasi mengalami stunting.
“Langkah yang kita berikan yakni berupa edukasi/konseling (99,82%) yang dilaporkan ke Puskesmas (98,95%) dan yang dilakukan kunjungan ulang (76,67%). Sementara pemantauan perkembangan dengan instrumen Kuisioner Pra-Skrining Perkembangan (52,27%) dan di rujuk ke Rumah Sakit (3,77%),” tuturnya.
Berdasarkan hasil analisis data tersebut, tambah drg. Hana, faktor determinan yang memengaruhi kasus stunting tahun 2025 di Kabupaten Sumedang meliputi berbagai macam antara lain;
Merokok di dalam rumah (89,70%), Tidak punya JKN/BPJS (44,94%), Riwayat ibu hamil (KEK)(10,41%), Tidak imunisasi (3,38%), Penyakit penyerta (2,24%) Cacingan (1,23%), Tidak memiliki jamban sehat (1,08%) dan Tidak ada akses air bersih (0,84%).
“Pada kesimpulannya, Kabupaten Sumedang telah menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam upaya penurunan stunting melalui konvergensi berbasis data disertai cakupan pengukuran yang tinggi serta tindakan intervensi yang responsive. Hal ini mencerminkan komitmen daerah dalam mewujudkan generasi sehat,” pungkasnya.***
