SUMEDANG, W+62.COM – Cuaca ekstrem yang mengguyur wilayah Sumedang selama empat hari terakhir memicu bencana tanah longsor di Jalan Raya Sumedang–Tanjungkerta, Jumat (23/1/2026) malam. Material longsor menimbun seluruh badan jalan di Blok Sudiplak, Kampung Baru, Desa Cipanas, sehingga memutus total akses kendaraan dari kedua arah.
Tebing setinggi 30 meter dengan kemiringan curam ambrol dalam dua tahap. Tebing itu longsor pertama kali pada pukul 18.00 WIB, lalu menyusul longsoran kedua yang lebih besar pada pukul 19.30 WIB. Hingga saat ini, ancaman longsor susulan yang masih tinggi memaksa petugas menutup jalur penghubung Bojong–Sukamantri bagi seluruh kendaraan.
Respons Cepat Aparat dan Rekayasa Lalu Lintas
Kapolsek Tanjungkerta, AKP Budiman Hidayat, mengonfirmasi bahwa personel gabungan dari Polsek, BPBD Sumedang, serta Satpol PP telah bersiaga di lokasi. Pihaknya mengambil tindakan tegas dengan menutup total akses jalan demi menjamin keselamatan pengguna jalan.
“Kami langsung menutup jalur Bojong–Sukamantri karena pergerakan tanah dari atas tebing masih berlangsung. Keselamatan masyarakat adalah hal yang paling utama,” ujar AKP Budiman.
Sebagai solusi bagi pengendara, kepolisian mengalihkan arus lalu lintas ke jalur alternatif melalui Jalan Raya Sindangtaman–Gembong. Petugas belum memulai proses evakuasi material longsor mengingat kondisi cuaca dan risiko medan yang masih labil.
Dampak Cuaca Ekstrem Empat Hari
Kapolres Sumedang, AKBP Sandityo Mahardika, menegaskan bahwa bencana ini merupakan imbas langsung dari intensitas hujan tinggi yang melanda Sumedang selama empat hari berturut-turut. Ia menginstruksikan jajarannya untuk melakukan pengamanan maksimal di titik rawan.
“Kami pastikan tidak ada korban jiwa atau kerusakan rumah warga karena titik longsor jauh dari permukiman. Namun, kami meminta masyarakat patuh pada penutupan jalur ini dan menggunakan rute alternatif,” tegas AKBP Sandityo.
Polres Sumedang terus memantau perkembangan situasi di lapangan. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan saat berkendara, terutama ketika hujan deras mengguyur wilayah perbukitan yang rawan pergerakan tanah.***
