SUMEDANG, Wplus62.com – Pemerintah Kabupaten Sumedang bergerak cepat mematangkan cetak biru pengembangan Kawasan Ekonomi Rebana. Guna mempercepat langkah tersebut, Pemkab Sumedang menggelar forum diskusi regional yang menghadirkan pakar ekonomi, Kadin, Humanity Initiative, hingga perwakilan Bank Jabar di Aula Tampomas, Selasa (23/06/2026).
Langkah strategis ini bertujuan menghimpun gagasan segar dan rekomendasi konkret. Terlebih, Kawasan Ekonomi Rebana mengintegrasikan Sumedang dengan 26 kabupaten/kota lain, termasuk Majalengka, Subang, Indramayu, Kuningan, dan Cirebon.
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, menegaskan bahwa kawasan mega-industri ini menyimpan potensi raksasa. Selain mampu menarik investasi asing dan lokal, proyek ini bakal memangkas ketimpangan ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja massal.
“Ketika lapangan kerja terbuka lebar, pendapatan masyarakat Sumedang otomatis meningkat. Pada akhirnya, kesejahteraan warga akan terwujud nyata,” ujar Dony optimis saat diwawancarai Wplus62.com, Selasa siang.
Empat Strategi Pemkab Sumedang Garap Investasi
Untuk menyambut para investor, Dony membeberkan empat jurus jitu yang kini tengah berjalan di Sumedang:
- Digitalisasi Perizinan Super Cepat: Melalui Mal Pelayanan Publik (MPP) sistem satu atap, Pemkab menjamin proses perizinan yang transparan dan kilat via aplikasi resmi.
- Peningkatan Kualitas SDM: Balai Latihan Kerja (BLK) secara masif melatih warga lokal agar memiliki keahlian yang relevan dengan kebutuhan industri modern.
- Insentif Fiskal yang Memikat: Pemerintah daerah memanjakan investor lewat pengurangan pajak dan kemudahan regulasi yang tertuang dalam Peraturan Bupati.
- Iklim Usaha yang Kondusif: Pemkab merangkul seluruh elemen masyarakat agar menjadi tuan rumah yang ramah dan mendukung keamanan investasi.
Strategi agresif ini terbukti membuahkan hasil manis. Nilai investasi yang masuk ke Sumedang melonjak tajam dari Rp3,6 triliun menjadi Rp5,7 triliun. Selaras dengan itu, pertumbuhan ekonomi daerah meroket dari 4,05 persen ke angka 5,48 persen, sementara angka pengangguran terbuka menyusut hingga kisaran 6 persen.
Ekonomi Digital dan Ekspor Jadi Target Utama
Pada kesempatan yang sama, Kepala Pelaksana Badan Pengelola Kawasan Rebana, Helmy Yahya, mengingatkan pentingnya menggenjot nilai ekspor guna mempertahankan tren positif ini. Namun, ia menggarisbawahi bahwa kesuksesan ekspor sangat bergantung pada derasnya arus investasi.
“Pencapaian kita sudah bagus, tetapi tantangan berikutnya adalah memastikan nilai ekspor kita jauh lebih besar daripada impor. Kuncinya ada pada investasi,” kata Helmy.
Saat ini, Kawasan Ekonomi Rebana menyediakan lahan siap kembang seluas 42.009 hektar. Menariknya, Helmy membidik sektor ekonomi digital global dengan menawarkan konsep ekonomi hijau (green economy).
Rebana dinilai sangat ideal sebagai rumah bagi pusat data (data center) dunia karena memiliki infrastruktur pendukung yang melimpah. Keberadaan sejumlah waduk dan bendungan di kawasan ini siap menyuplai panel surya untuk energi terbarukan, sekaligus menjadi sistem pendingin alami yang dibutuhkan oleh fasilitas server raksasa.
Optimisme Menatap Pasar Global
Jika Indonesia mampu merebut minimal 1 persen saja dari pangsa pasar ekonomi digital global—yang diproyeksikan menembus ratusan triliun dolar—dampaknya akan luar biasa bagi ekonomi nasional.
Dalam sembilan bulan terakhir, pertumbuhan ekonomi di wilayah Rebana bahkan sudah melampaui rata-rata nasional dan Provinsi Jawa Barat. Dukungan penuh dari tujuh bupati dan satu wali kota di kawasan ini kian menebalkan optimisme Helmy.
“Pertumbuhan ekonomi ini akan menyerap tenaga kerja dalam skala besar. Selain itu, UMKM lokal akan terlibat aktif sebagai pemasok industri. Ini adalah jawaban konkret untuk memangkas pengangguran di Jawa Barat,” tutur Helmy.***
