SUMEDANG, Wplus62.com – Koordinator Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Kecamatan Jatinangor mengambil langkah tegas guna menciptakan lingkungan kerja yang bersih dan sehat. Bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sumedang, mereka menggelar penyuluhan antinarkoba sekaligus tes urine massal bagi para relawan SPPG se-Kecamatan Jatinangor di Aula Desa Cikeruh, Rabu (8/7/2026).
Langkah preventif ini sengaja diambil menyusul kegemparan publik beberapa bulan lalu. Saat itu, salah seorang oknum relawan SPPG kedapatan melakukan transaksi obat-obatan terlarang. Oleh karena itu, penyelenggara mengusung tema “Tertib Lalu Lintas dan Bahaya Narkoba” dalam kegiatan yang turut dihadiri jajaran Forkopimcam Jatinangor tersebut.
Deteksi Dini Demi Optimalisasi Pelayanan Publik
Koordinator SPPG Jatinangor, Fakhri Firman Nursabari, menegaskan bahwa edukasi dan tes urine ini merupakan komitmen nyata untuk menyaring serta membersihkan internal relawan dari pengaruh zat adiktif.
“Tujuan penyuluhan dan tes urine ini sebagai upaya deteksi dini. Kami ingin memastikan seluruh relawan SPPG dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat secara optimal tanpa kontaminasi narkoba,” ujar Fakhri di sela-sela kegiatan.
Selanjutnya, Fakhri juga mengingatkan para relawan agar tidak main-main dengan aturan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pasalnya, seluruh data relawan kini sudah terintegrasi secara digital dengan berbagai instansi terkait.
“Kita punya SOP yang ketat. Jika ada indikasi pelanggaran, sanksi serius menanti. Selain itu, sesama relawan harus lebih peka dan saling mengingatkan karena buruknya tindakan satu oknum akan mengimbas pada reputasi organisasi secara keseluruhan,” tambah Fakhri.
Menyiapkan Generasi Emas Lewat Gizi Berkualitas
Sementara itu, Plt. Camat Jatinangor, Endang Rohmayudi, menyambut hangat inisiatif ini. Dalam sambutannya, Endang menekankan bahwa para relawan memikul tanggung jawab besar yang langsung bersentuhan dengan masa depan bangsa. Program MBG bukan sekadar aktivitas dapur umum, melainkan sebuah misi nasional.
“Tugas bapak dan ibu sekalian bukan tugas sembarangan. Kita sedang mengabdi kepada negara. Pekerjaan kita adalah menyiapkan generasi masa depan agar lebih berkualitas melalui penyediaan bahan makanan yang bergizi,” papar Endang.
Di sisi lain, tantangan di lapangan tidak hanya terkait masalah narkoba, melainkan juga keselamatan kerja. Kapolsek Jatinangor, Kompol Rogers Thomas, mengimbau para relawan yang bertugas sebagai pengantar makanan (driver) untuk wajib memiliki SIM A dan mematuhi rambu lalu lintas.
“Arus lalu lintas di Jatinangor ini sangat padat dan rawan kecelakaan. Maka dari itu, demi menjaga ketertiban dan keamanan berkendara selama bekerja, bawa selalu perlengkapan berkendara Anda,” tutur Kompol Rogers.
Jatinangor Zona Merah: Ancaman Narkoba dan Kasus HIV Anak
Fakta mengejutkan diungkapkan oleh Subkoordinator Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNN Sumedang, R. Ahmad Suhud. Berdasarkan pemetaan BNN, Jatinangor kini masuk dalam daftar zona merah dengan tingkat kerawanan penyalahgunaan narkoba yang sangat tinggi.
Bahkan, Suhud membeberkan data memprihatinkan mengenai dampak turunan dari gaya hidup tidak sehat di wilayah tersebut.
“Angka HIV di Jatinangor ini cukup tinggi, saat ini tercatat ada 7 orang yang positif HIV/AIDS. Menjadi keprihatinan kita bersama, penderita HIV termuda di sini bahkan baru menginjak usia 12 tahun,” ungkap Ahmad Suhud secara gamblang.
Berangkat dari kasus viral oknum relawan sebelumnya, BNN Sumedang mengapresiasi gerak cepat korwil SPPG. Ke depan, BNN berencana memperluas jangkauan tes urine dan penyuluhan ini ke seluruh relawan SPPG di tingkat Kabupaten Sumedang.
Melalui sinergi kuat antara SPPG, BNN, dan Forkopimcam ini, Jatinangor diharapkan mampu memutus rantai peredaran narkoba sekaligus menyukseskan program nasional MBG dengan bersih dan transparan. ***
