SUMEDANG, Wplus62.com – Suasana haru sekaligus membakar semangat menyelimuti acara Syukuran Persib Juara di RM BaHe54, Tanjungsari, Sumedang pada Senin (25/5/2026).
Ribuan Bobotoh bergerak memadati lokasi, saling berdesakan demi merayakan keberhasilan tim kebanggaan mereka. Kebahagiaan itu kian lengkap karena seluruh pemain, pelatih, hingga sebagian besar official Persib Bandung melangkah hadir memenuhi undangan sang manajer karismatik, H. Umuh Muchtar.
Di tengah keriuhan tersebut, pria yang akrab disapa Wa’ Haji Umuh (WHU) ini membagikan sebuah pengakuan mengejutkan yang menyentuh hati. Ia mengaku harus memaksakan diri untuk datang meski kondisi kesehatannya sedang menurun drastis. Rasa lelah yang teramat sangat bahkan nyaris membuatnya pingsan di tengah jalan.
”Kaki kiri saya masih sakit sampai sekarang. Kemarin saya memaksakan jalan kaki sampai pengap dan hampir pingsan. Kalau panitia tidak memberi waktu longgar 3-5 menit lagi, saya pasti sudah pingsan. Tadi pagi saja habis salat saya meminta pijat sampai ketiduran. Saya sempat was-was, apakah hari ini saya bisa menghadiri acara ini atau tidak,” ungkap Umuh dengan suara bergetar namun penuh ketegasan.
Namun, rasa sakit itu seketika menguap begitu ia melihat lautan manusia dan menyaksikan para pemain Persib berkumpul secara utuh. Bagi Umuh, Persib merupakan bagian dari helaan napasnya.
”Inilah bukti kecintaan saya kepada Persib. Apapun yang terjadi, saya siap mempertaruhkan nyawa saya demi Persib, dan demi membahagiakan masyarakat Jawa Barat serta Bobotoh!” tegasnya,

Umuh Tegaskan Anti-Intervensi Pelatih
Selain berbicara tentang totalitasnya, Umuh Muchtar memanfaatkan momentum ini untuk melempar pesan tajam terkait profesionalisme di tubuh Pangeran Biru. Ia menegaskan bahwa kebebasan mutlak yang ia berikan kepada tim pelatih dalam meramu strategi menjadi kunci utama Persib merengkuh takhta juara.
Umuh membantah keras isu miring yang menyebut adanya intervensi manajemen dalam pemilihan pemain di lapangan.
- Manajemen Memberikan Kebebasan Penuh: Umuh menyatakan bahwa ia tidak pernah mendikte pelatih untuk memainkan personel tertentu (Si A atau Si B).
- Menghormati Keputusan Pelatih: Ia menyerahkan sepenuhnya keputusan pemilihan pemain di lapangan kepada sosok yang ia sebut sebagai “pelatih terbaik”.
- Menegur Pihak yang Mengkritik: Umuh bahkan mengaku sempat memarahi pihak-pihak yang mempertanyakan keputusan pelatih terkait rotasi pemain. “Tidak boleh begitu, itu keputusan pelatih! Pelatih yang terbaik saya bilang!” cetusnya.
Menyiapkan Hiburan Rakyat dan Rencana Masa Depan
Guna memanjakan para pendukung setia, Umuh sudah menyiapkan pesta rakyat di lahan miliknya yang luas. Ia berencana menggelar tradisi ngagogo ikan, di mana warga akan berebut menangkap hampir 2 ton ikan di kolam tanpa menggunakan alat pancing.
Sebelum mengakhiri pembicaraan, Umuh menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh awak media yang selalu setia mendukung perjalanannya dan Persib hingga hari ini. Sembari menikmati momen yang ia sebut sebagai “hari paling bahagia”, Umuh juga melempar sinyal bahwa manajemen terus mematangkan persiapan untuk menghadapi pertandingan-pertandingan besar di masa depan.
“Insya Allah, saya sudah menyiapkan semuanya dengan matang untuk menyambut laga-laga ke depan,” pungkas sang manajer legendaris.***













