BANDUNG, W+62.COM – Bobotoh Persib baru saja melempar “bom” narasi yang mengocok perut sekaligus memerahkan telinga. Melalui sebuah surat terbuka di Facebook yang viral, pendukung fanatik Maung Bandung ini secara terang-terangan menelanjangi kemunduran kelas suporter tetangga. Mereka menganggap rivalitas kini bukan lagi soal adu taktik di lapangan hijau, melainkan soal adu tingkat kewarasan.
Kalian Membangun Kebencian, Kami Membangun Peradaban
Dalam suratnya, Bobotoh menyerang kebiasaan lama suporter Jakarta yang terus melestarikan “kurikulum kebencian”. Bobotoh menyoroti bagaimana oknum tetangga dengan sangat rajin mengampanyekan slogan kasar hingga menular ke pemain profesional dan pembuat konten.
“Kalian lebih sukses membangun ekosistem makian daripada mencetak prestasi tim,” tulis Bobotoh dengan nada menyindir. Mereka juga mengingatkan publik pada aksi memalukan pemain lawan yang ikut-ikutan meneriakkan kata kasar saat siaran langsung di media sosial—sebuah tindakan yang dianggap sangat jauh dari standar atlet profesional.
Bobotoh Melindungi, Tetangga Menghancurkan
Perbedaan perlakuan terhadap rival menjadi poin paling tajam dalam surat ini. Bobotoh memamerkan bukti nyata perubahan perilaku mereka:
- Melindungi Penyusup: Saat mendapati oknum suporter lawan masuk ke GBLA, Bobotoh justru mengamankan mereka dari amuk massa, bukan mengirimnya ke rumah sakit.
- Berhenti Menyerang: Bobotoh sudah lama meninggalkan aksi anarkis terhadap kendaraan tim lawan.
- Tetangga Masih “Hobi” Lama: Surat tersebut menyindir bus pemain Persib yang masih saja hancur terkena lemparan batu saat bertamu ke Jakarta.
Bahkan, Bobotoh menyertakan bumbu humor getir tentang aksi “kungfu” suporter lawan yang mencoba menendang rantis pemain Persib namun justru terpental sendiri karena hukum fisika.
Sirkus Nazar: Dari Primata Hingga Ancaman Nyawa
Kebodohan paling puncak yang menjadi sasaran empuk Bobotoh adalah rentetan nazar konyol dari suporter sebelah. Surat itu mengecam aksi oknum yang menjanjikan pernikahan dengan monyet hingga mengirim ancaman pembunuhan kepada keluarga Thom Haye.
Bobotoh memandang tindakan ini bukan lagi sebagai bumbu rivalitas, melainkan tanda bahwa oknum tersebut membutuhkan bantuan medis secara psikologis. Mereka menganggap rendah harga diri suporter yang menggadaikan nyawa manusia demi rasa benci yang buta.
Pesan Pamungkas: Jangan Ngaku Rival!
Menutup surat dengan serangan telak, Bobotoh meminta tetangga berhenti mengaku sebagai rival jika tidak segera berbenah. “Tidak ada rivalitas antara singa yang melangkah maju dengan pihak yang terus menggonggong di tempat,” tegas mereka.
Pesan dari Bandung ini sangat jelas: Bobotoh sudah memilih jalan yang lebih waras, dan mereka kini sedang menunggu tetangganya merangkak keluar dari “selokan” perilaku bar-bar.***













