EDITORIAL – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, membawa misi besar saat menyambangi situs-situs bersejarah di Sumedang, Sabtu (17/1). Kunjungan ke Gunung Kunci, Gunung Palasari, hingga Museum Gedung Srimanganti ini menegaskan satu pesan kuat: Pemerintah pusat tidak lagi membiarkan situs sejarah mati suri.
Rencana revitalisasi keraton yang meluncur dari lisan Fadli Zon menandai era baru pengelolaan budaya yang lebih berotot dan bernilai ekonomi.
Fadli Zon menerjemahkan mandat Presiden Prabowo Subianto dengan sangat lugas. Ia mendorong kebudayaan keluar dari zona nyaman pelestarian pasif menuju industri produktif. Sumedang, dengan kekayaan “Mega Diversity” miliknya, menjadi laboratorium pertama yang menguji keberanian visi ini.
Revitalisasi ini tidak sekadar memoles fisik bangunan, tetapi membangun ulang ekosistem sejarah agar mampu menghidupi masyarakat lokal.
Kita melihat Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, merespons cepat ambisi pusat tersebut. Dony menyiapkan langkah digitalisasi cagar budaya untuk menjembatani jurang narasi antara sejarah masa lalu dan generasi muda saat ini.
Inovasi digital ini memudahkan milenial dan Gen Z mengakses nilai-nilai luhur Sumedang Larang dalam format yang lebih relevan dan modern.
Namun, pekerjaan rumah besar menanti di depan mata. Revitalisasi seringkali terjebak pada formalitas konstruksi. Pemerintah harus memastikan bahwa pemugaran keraton dan situs sejarah tetap menjaga keaslian nilai-nilai lokal. Jangan sampai pengejaran nilai ekonomi justru mengaburkan kesakralan sejarah itu sendiri. Masyarakat Sumedang harus menjadi aktor utama dalam perputaran industri budaya ini, bukan sekadar penonton di tanah sendiri.
Wplus62 memandang sinergi pusat dan daerah ini sebagai momentum emas. Jika proyek ini berhasil, Sumedang akan menjadi standar nasional bagi daerah lain dalam mengelola warisan leluhur. Kita mendukung penuh langkah berani ini, sembari tetap kritis mengawal agar setiap rupiah investasi budaya benar-benar bermuara pada kesejahteraan rakyat dan tegaknya martabat bangsa.***
