Berita Terkini

Mahkota Binokasih: Operasi Rahasia di Bulan Ramadan yang Menyelamatkan Kedaulatan Sunda

Penampakan Mahkota Binokasih Pajajaran yang kini tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang.
Penampakan Mahkota Binokasih Pajajaran yang kini tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang.

SUMEDANG, Wplus62.com — Sejarah besar sering kali lahir dari kesunyian, bukan hiruk-pikuk peperangan. Di tengah heningnya bulan Ramadan tahun 1579, empat panglima perang melintasi hutan belantara Jawa Barat membawa sebuah titipan paling berharga dalam sejarah Sunda: Mahkota Binokasih Sanghyang Pake.

Dalam perjalanan heroik ini bukan sekadar pelarian, melainkan misi penyelamatan legitimasi kekuasaan yang kini menjadikan Sumedang sebagai jantung budaya Sunda.

Pelarian di Balik Kabut Pajajaran

Ketika Kesultanan Banten mengepung Pakuan Pajajaran (Bogor), eksistensi kerajaan Hindu-Budha terbesar di Jawa Barat itu berada di ujung tanduk. Namun, sebelum benteng terakhir runtuh, Raja Pajajaran mengambil keputusan krusial. Ia tidak membiarkan simbol kedaulatannya jatuh ke tangan musuh.

Oleh karena itu, Empat senapati tangguh—Jayaperkosa, Sanghyang Kondang Hapa, Terong Peot, dan Nangganan—mengemban tugas rahasia. Mereka membungkus Mahkota Binokasih dengan kain putih, menyamar sebagai rakyat jelata, dan menempuh rute gerilya yang sangat ekstrem.

Menembus Hutan: Rute Penyelamatan Sang Mahkota

Konon, para senapati ini menghindari jalur utama. Mereka mendaki lereng-lereng curam, menembus lebatnya hutan Priangan, dan menyeberangi derasnya Sungai Citarum. Kalimat aktif menggambarkan pergerakan mereka: Mereka memanjat, mereka bersembunyi, dan mereka terus berlari demi menjaga kehormatan bangsa.

Pelarian ini berakhir di Kutamaya, pusat pemerintahan Sumedang Larang. Di sana, mereka menyerahkan mahkota emas tersebut kepada Prabu Geusan Ulun. Momen penyerahan yang terjadi di bulan suci Ramadan ini menandai transisi kekuasaan yang elegan. Sumedang tidak hancur oleh perang; Sumedang justru bangkit sebagai ahli waris sah kebesaran Pajajaran melalui diplomasi dan simbol budaya.

Sumedang Larang: Jembatan Dua Peradaban

Masuknya Islam ke Sumedang melalui sosok Pangeran Santri memberikan warna baru pada arsitektur dan tata kota. Jika Anda berkunjung ke pusat kota Sumedang hari ini, Anda masih bisa merasakan aura transisi tersebut.

  • Masjid Agung Sumedang: Berdiri kokoh dengan atap tumpang yang melambangkan akulturasi.
  • Alun-Alun Sumedang: Mengikuti pola Macapat, menempatkan masjid, pusat pemerintahan (Pendopo), dan pasar dalam satu harmoni kehidupan.

Arsitektur ini membuktikan bahwa Islam di Sumedang tidak datang untuk menghapus masa lalu, melainkan menyempurnakannya. Struktur bangunan tetap menggunakan kayu jati pilihan dan batu alam, mencerminkan ketangguhan masyarakat Sunda yang adaptif.

Mengapa Kisah Ini Tetap Relevan?

Bagi pembaca masa kini, kisah Ramadan di Sumedang tahun 1579 mengajarkan tentang resiliensi dan integritas. Di saat krisis melanda, para pemimpin masa lalu tidak mengutamakan ego, melainkan keberlangsungan nilai budaya.

Mahkota Binokasih yang kini tersimpan rapi di Museum Prabu Geusan Ulun bukan sekadar emas murni. Ia adalah saksi bisu bagaimana sebuah bangsa mempertahankan jati dirinya di tengah badai perubahan zaman.***

*Catatan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan kompilasi berbagai literatur sejarah, catatan dari Museum Prabu Geusan Ulun, serta tradisi lisan (manuskrip/babad) yang berkembang di masyarakat Sumedang. Mengingat adanya perbedaan penafsiran tahun dan detail peristiwa dalam beberapa versi sejarah, tulisan ini mengedepankan narasi yang paling diakui secara luas sebagai bagian dari identitas budaya dan sejarah besar Sumedang Larang.

Exit mobile version