SUMEDANG, Wplus62.com – Peta politik Sumedang berguncang. Bupati Sumedang, Dr. Dony Ahmad Munir, secara mengejutkan mendatangi Gedung Sekretariat Kantor DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Sumedang pada Kamis (12/02/2026) untuk berpamitan.
Dony, yang selama ini menjadi ikon dan kader terbaik PPP, mengonfirmasi keputusannya untuk menyeberang ke Partai Gerindra. Langkah besar ini ia ambil setelah melewati proses perenungan panjang selama 1,5 tahun.
Perluas Ikhtiar dan Sinergi Nasional
Dalam pertemuan emosional dengan jajaran pengurus DPC dan PAC PPP se-Kabupaten Sumedang, Dony menegaskan bahwa kepindahannya bertujuan mempercepat pembangunan di Sumedang melalui sinergi yang lebih kuat dengan pemerintah pusat.
“Saya memohon izin, doa, dan rida atas keputusan ini. Langkah ini murni untuk memperluas kemanfaatan bagi masyarakat dan memastikan program nasional, seperti ketahanan pangan dan ekonomi kerakyatan, selaras dengan program daerah,” tegas Dony.
Dony menepis isu adanya tekanan di balik manuver politiknya. Ia memastikan keputusannya 100 persen bersifat pribadi demi memperkuat posisi Sumedang dalam kancah pembangunan nasional hingga masa jabatannya berakhir pada 2030.
Menghargai Kekecewaan Kader
Dony menyadari bahwa langkahnya ini memicu luka bagi para loyalis partai berlambang Ka’bah tersebut. Ia secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh kader yang merasa kecewa.
- Pernyataan Sikap: Dony tetap menganggap PPP sebagai “rumah perjuangan” yang telah membesarkannya.
- Komitmen Nilai: Ia berjanji akan tetap membawa nilai-nilai perjuangan PPP meskipun kini berseragam Gerindra.
Respon PPP: Berat, Tapi Menghargai
Ketua DPC PPP Kabupaten Sumedang, Ilmawan Muhamad, mengakui suasana batin partai tengah diselimuti rasa berat hati. Namun, ia memilih untuk menghormati hak politik Dony Ahmad Munir.
“Tentu kami merasa berat, tapi kami menghargai keputusan yang sudah matang tersebut. Kami sudah berkonsolidasi dengan seluruh PAC agar tetap solid. Semangat perjuangan PPP tidak akan surut,” ujar Ilmawan dengan nada optimis.***
