Berita Terkini

Songsong Generasi Emas 2045, FKUB Sumedang Perkuat Kerukunan Lintas Agama Lewat Workshop Strategis

Workshop FKUB Sumedang bertajuk “Peran Strategis Tokoh Agama Dalam Memelihara Kerukunan Umat Beragama Menuju Generasi Emas Indonesia Tahun 2045”
Workshop FKUB Sumedang bertajuk “Peran Strategis Tokoh Agama Dalam Memelihara Kerukunan Umat Beragama Menuju Generasi Emas Indonesia Tahun 2045”

SUMEDANG, Wplus62.com – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sumedang terus memperkokoh fondasi toleransi di wilayahnya. Kali ini, FKUB menggelar workshop bertajuk “Peran Strategis Tokoh Agama Dalam Memelihara Kerukunan Umat Beragama Menuju Generasi Emas Indonesia Tahun 2045” yang berlangsung di Rumah Makan Ponyo, Sumedang, Sabtu (16/05/2026).

Langkah ini menjadi bagian dari upaya sistematis untuk memastikan Kabupaten Sumedang tetap kondusif di tengah keberagaman. Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan ini bertujuan memperluas wawasan kebangsaan bagi para tokoh lintas iman.

Sinergi Lintas Sektoral demi Kondusivitas

Untuk memberikan pemahaman yang komprehensif, FKUB menghadirkan narasumber ahli dari berbagai instansi kunci, antara lain:

  • Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sumedang.
  • Polres Sumedang.
  • Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Sumedang.

Ketua FKUB Kabupaten Sumedang, Dr. H. Syamsul Falah, menegaskan bahwa workshop tahunan ini merupakan agenda krusial. Pasalnya, forum ini mengumpulkan seluruh tokoh agama dan kepercayaan—mulai dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, hingga Konghucu—dalam satu meja diskusi.

“Kami rutin melaksanakan silaturahmi dan workshop ini setiap tahun. Tujuannya jelas, yakni mempererat hubungan antarumat sekaligus menyerap wawasan langsung dari para pakar di pemerintahan dan kepolisian,” ujar Syamsul.

Ketua FKUB Kabupaten Sumedang, Dr. H. Syamsul Falah

Deteksi Dini Konflik Melalui Komunikasi Santai

Syamsul menjelaskan bahwa saat ini kondisi kerukunan di Sumedang tergolong sangat kondusif. Menurutnya, keberhasilan tersebut berakar pada intensitas komunikasi yang cair antar tokoh agama.

Selanjutnya, ia menekankan bahwa pendekatan informal sering kali lebih efektif dalam meredam potensi gesekan di masyarakat.

  1. Mediasi Proaktif: Sebelum sebuah isu berkembang menjadi konflik, FKUB bersama pemerintah segera melakukan mediasi.
  2. Dialog Informal: Obrolan santai antar tokoh memungkinkan pertukaran informasi yang lebih jujur dan cepat.
  3. Penyelesaian Sosial: Langkah komunikasi ini terbukti ampuh menyelesaikan persoalan sosial sebelum membesar.

“Harapannya, workshop ini membekali peserta dengan keterampilan menangani konflik keagamaan, baik eksternal maupun internal, agar Sumedang tetap aman menjelang berbagai agenda pembangunan nasional,” tambahnya.

Kehadiran Tokoh dan Organisasi Kunci

Antusiasme peserta terlihat dari beragamnya organisasi yang hadir. Selain pengurus FKUB dan Forum Pemuda Lintas Agama (Formula), tampak pula perwakilan dari:

  • Majelis Ulama Indonesia (MUI).
  • Ormas Islam besar seperti NU, Muhammadiyah, PERSIS, PUI, LDII, Al-Jamiyatul Washliyah, dan Syarikat Islam (SI).
  • Tokoh pendidik, guru PAI, serta para penyuluh agama dari berbagai kecamatan.

Melalui kolaborasi yang solid ini, FKUB Sumedang optimis dapat mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual menuju 2045, tetapi juga memiliki kedewasaan dalam beragama dan bernegara.***

Exit mobile version