BANDUNG, Wplus62.com – Masjid wajib memperluas perannya agar tidak sekadar menjadi tempat ibadah ritual. Rumah ibadah kini harus bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan ekonomi, pendidikan, hingga pelestarian lingkungan.
Pesan kuat tersebut mengemuka saat Wakil Presiden RI ke-10 dan 12, Jusuf Kalla (JK), mengunjungi Masjid Agung Bandung pada Selasa (16/6/2026). Kunjungan Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) periode 2024-2029 ini sekaligus memicu momentum baru bagi masjid bersejarah tersebut untuk menggalakkan program kemaslahatan yang nyata.
“Masjid itu selain dimakmurkan oleh umat, sangat perlu juga masjid berperan mengangkat kemakmuran umat,” ujar Jusuf Kalla dengan tegas.
Memaknai Hijrah Melalui Penguatan Ekonomi Syariah
Oleh karena itu, JK menilai bahwa indikator keberhasilan sebuah masjid tidak melulu berpatokan pada jumlah jemaah yang hadir. Sebaliknya, pengurus masjid harus mampu menghadirkan manfaat konkret melalui penguatan solidaritas sosial dan kemandirian finansial umat.
Apalagi, momentum kunjungan ini bertepatan dengan menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah yang mengusung tema “Kebangkitan Umat dengan Menata Diri dan Membangun Peradaban”. JK mengajak umat Islam untuk memaknai hijrah sebagai gerakan perubahan yang progresif, termasuk dalam sektor ekonomi.
“Tahun baru Islam harus menjadi momentum evaluasi. Hijrah adalah perubahan menuju keadaan yang lebih baik,” cetus JK.
Selanjutnya, ia menambahkan bahwa dakwah ekonomi syariah harus menggema dari mimbar-mimbar masjid. Pengurus masjid dapat mengoptimalkan peran lembaga ini menjadi sentra edukasi, pengembangan kewirausahaan, serta pendampingan UMKM. Langkah strategis tersebut mencontoh rekam jejak Rasulullah SAW yang telah membangun peradaban lewat jalur perdagangan jauh sebelum masa kerasulan.
Masjid Agung Bandung Luncurkan Program Eco Masjid
Merespons arahan tersebut, Ketua Nazhir Masjid Agung Bandung, Roedy Wiranatakusumah, bergerak cepat. Pihaknya langsung mencanangkan Program Eco Masjid untuk mengintegrasikan nilai spiritual dengan aksi nyata penyelamatan lingkungan hidup.
Melalui program inovatif ini, Masjid Agung Bandung akan menjadi pusat distribusi bibit tanaman kepada jemaah dan masyarakat luas. Menariknya, jemaah akan merawat bibit-bibit tersebut menggunakan air bekas wudhu yang selama ini terbuang percuma.
“Kami ingin menunjukkan bahwa masjid dapat menjadi pelopor perubahan positif. Air wudhu yang selama ini terbuang dapat dimanfaatkan untuk merawat bibit tanaman. Ini langkah sederhana, tetapi berdampak sosial dan lingkungan yang besar,” jelas Roedy.
Beralih ke Panel Surya demi Green Energy
Tidak berhenti pada penghijauan, Masjid Agung Bandung juga tengah mempersiapkan program Green Energy. Pengurus masjid berencana memasang panel surya untuk menopang kebutuhan listrik yang selama ini masih bergantung penuh pada pasokan PLN.
Di samping menghemat biaya operasional, transisi ke energi terbarukan ini merupakan langkah konkret masjid dalam mengurangi emisi karbon. Langkah visioner ini pun langsung mendapat dukungan penuh dari Jusuf Kalla. JK berharap masjid-masjid lain di Indonesia meniru langkah ini demi menjaga kelestarian alam.
Pada akhirnya, melalui kombinasi dakwah ekonomi syariah, gerakan Eco Masjid, dan pemanfaatan energi hijau, Masjid Agung Bandung berhasil menerjemahkan esensi hijrah ke dalam kehidupan modern. Dari masjid bersejarah ini, peradaban baru yang mandiri dan ramah lingkungan resmi dimulai.***
