Wplus62.com — Penyerahan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake pada tahun 1578 bukan sekadar perpindahan perhiasan emas seberat 8 kilogram. Momen tersebut adalah proklamasi spiritual dan politik bahwa “Cahaya Pajajaran” tidak padam, melainkan berpindah ke Sumedang Larang.
Namun, ada satu detail krusial yang sering luput dari sorotan: nasib empat panglima besar yang membawa mahkota tersebut. Mereka bukan hanya kurir, melainkan pilar birokrasi yang kelak mengubah wajah pemerintahan Prabu Geusan Ulun.
Empat Punggawa, Satu Misi
Ketika Kerajaan Pajajaran di ambang keruntuhan akibat serangan Banten, empat patih kepercayaan Prabu Surya Kencana—Sayang Hawu, Terong Peot, Kondang Hapa, dan Nangganan—menyelamatkan simbol kedaulatan tertinggi. Di bawah sumpah setia, mereka menyerahkan mahkota tersebut kepada Prabu Geusan Ulun di Kutamaya.
Peran Baru dalam Struktur “Kandaga Lante”
Pasca penyerahan mahkota, keempat tokoh ini tetap berkarya. Mereka memasuki jajaran pemerintahan Sumedang Larang sebagai Kandaga Lante, sebuah gelar yang mengukuhkan peran mereka sebagai pemegang kekuasaan atau “Wadah Rantai”.
Berikut adalah peran strategis mereka dalam kabinet pemerintahan Sumedang Larang:

Mengapa Jabatan Mereka Begitu Penting?
Transformasi para mantan perwira Pajajaran menjadi pejabat Sumedang ini menciptakan efek domino yang luar biasa:
- Legitimasi Politik: Melalui kehadiran mereka, Sumedang Larang mengukuhkan dirinya sebagai ahli waris sah yang melanjutkan kebesaran Sunda.
- Stabilitas Militer: Berkat keahlian tempur Sayang Hawu, Sumedang Larang menjelma menjadi kekuatan yang membuat Banten maupun Cirebon berpikir dua kali untuk meremehkannya.
- Modernisasi Birokrasi: Pengalaman mereka di Pakuan Pajajaran mentransformasi dan memperkokoh sistem pemerintahan di Kutamaya menjadi lebih tangguh.
“Mereka bukan hanya pelayan raja, tapi adalah jangkar identitas. Tanpa struktur Kandaga Lante, Mahkota Binokasih mungkin hanya sekadar benda mati, bukan simbol kebangkitan.”
Warisan yang Hidup
Hingga hari ini, istilah Kandaga Lante masih melekat kuat dalam identitas budaya Sumedang. Mereka adalah simbol loyalitas tanpa batas dan profesionalisme birokrasi kuno yang berhasil menyelamatkan sebuah peradaban dari kepunahan.***
Catatan Redaksi & Disclaimer
Artikel ini disusun berdasarkan hasil riset literatur sejarah dari berbagai sumber, termasuk catatan Museum Prabu Geusan Ulun dan tradisi lisan masyarakat Sumedang. Penulis menyajikan narasi ini untuk tujuan edukasi dan pelestarian budaya. Mengingat adanya variasi penafsiran dalam catatan sejarah lama, pembaca disarankan untuk terus menggali referensi akademis guna memperkaya wawasan.













