JAKARTA, W+62.COM – Badan Gizi Nasional (BGN) resmi menghapus kewajiban susu sapi dalam menu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kebijakan tersebut bertujuan menjaga stabilitas harga pangan serta menyelaraskan menu dengan stok yang tersedia di daerah.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan menghindari lonjakan harga akibat tingginya permintaan pasar. Menurutnya, BGN hanya mewajibkan menu susu untuk daerah yang memiliki sentra peternakan sapi perah.
“Susu bukan hal wajib, kecuali untuk daerah yang memiliki sapi perah. Daerah lain bisa menggantinya dengan sumber protein dan kalsium lain yang setara,” ujar Dadan dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR, Selasa (21/1/2026).
Hindari Monopoli Menu untuk Tekan Harga
Dadan menegaskan, BGN sengaja menghindari keseragaman menu secara nasional. Pengalaman menunjukkan, penyeragaman menu justru memicu inflasi bahan pangan tertentu.
Ia mencontohkan peristiwa pada 17 Oktober 2025, saat menu nasi goreng serentak menyebabkan harga telur melonjak Rp3.000 per butir karena kebutuhan mencapai 2.600 ton dalam sehari.
Kini, BGN menerapkan sistem substitusi (penggantian) bahan baku:
Ayam ke Ikan: Jika harga ayam melonjak, Satuan Pelayanan Pangan Bergizi (SPPG) diminta beralih ke ikan.
Optimalisasi Stok Lokal: Saat harga kentang turun, BGN menginstruksikan SPPG memasak kentang minimal sekali seminggu untuk membantu menyerap produksi petani.
Skema Makan Bergizi Gratis Selama Ramadan
Menjelang bulan suci Ramadan, BGN memastikan program tetap berjalan dengan penyesuaian pola distribusi. Untuk wilayah mayoritas Muslim, makanan tetap dibagikan pada jam sekolah namun tidak untuk dimakan di tempat.
“Siswa membawa pulang makanan tersebut untuk dikonsumsi saat berbuka puasa. Kami pastikan menu yang disiapkan tahan lama hingga 12 jam,” kata Dadan.
Sementara itu, untuk daerah dengan mayoritas penduduk non-Muslim, pelayanan MBG tetap berjalan normal seperti hari biasa tanpa perubahan jadwal. BGN menjamin pemilihan menu selama Ramadan akan tetap sederhana namun kaya nutrisi dan memiliki daya tahan tinggi agar tetap layak konsumsi saat waktu berbuka tiba.***
