SUMEDANG, W+62.COM– Upaya menjaga warisan budaya dan memajukan ekonomi kreatif terus digelorakan di Dusun Sindang Desa Rancakalong Kecamatan Rancakalong Kabupaten Sumedang, seperti halnya yang dilakukan oleh para mahasiswa pada Sabtu (27/9/2025).
Dalam kegiatan ini hasil kerjasama antara Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari Universitas Sebelas April (Unsap) Sumedang dan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, yang menggelar Pelatihan Pengembangan Media Publikasi Pelestarian Kearifan Lokal Berbasis Digital.
Kegiatan yang berlangsung sejak Juni–September 2025, dan untuk pelaksanaan pelatihannya itu sendiri dari tanggal 18 sampai 20 Agustus 2025 lalu.
Kegiatan ini di danai dari program hibah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM).
Tim terdiri dari Ketua Rika Kusdinar (Prodi Administrasi Publik Unsap), anggota Imam Setyobudi (Prodi Antropologi Budaya ISBI) dan Irma Hermayanti (Prodi Administrasi Publik Unsap). Mitra kegiatan adalah Kelompok Seni Dusun Sindang Hurip.
Tradisi yang Kian Memudar
Dipilihnya Dusun Sindang, karena dikenal kaya akan ritual adat, seperti Hajat Golong, Terbang Buhun, dan Mitembeuyan. Namun, beberapa tradisi mulai jarang dilaksanakan, bahkan ada yang nyaris punah.
Faktor penyebabnya antara lain keterbatasan perhatian pemerintah terhadap pelestarian budaya, rendahnya minat generasi muda, hingga beralihnya mata pencaharian dari bertani ke sektor lain.
Selain itu, mayoritas pemimpin ritual (Saehu) sudah berusia lanjut tanpa penerus, sementara teknologi modern di sektor pertanian membuat sebagian fungsi upacara adat semakin memudar.
Adapun program PKM ini bertujuan meningkatkan wawasan dan keterampilan masyarakat, khususnya generasi muda dalam memanfaatkan teknologi digital untuk mendokumentasikan dan mempublikasikan upacara adat.
Dengan pelatihan multimedia, pembuatan website, pengelolaan media sosial, dan konten kreatif, peserta diharapkan mampu melestarikan kearifan lokal sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif.
“Generasi muda sudah mengenal gawai dan media sosial, tetapi masih sebatas pengguna. Kami ingin mereka menjadi produsen konten yang mengangkat nilai budaya lokal,” ujar Rika Kusdinar.
Rangkaian Kegiatan
Pelatihan diikuti oleh 40 anak muda dari Dusun Sindang. Materi yang diberikan meliputi:
- Pengenalan platform digital (website, Instagram, Facebook, TikTok, YouTube) dan etika siber
- Teknik pembuatan konten kreatif dalam bentuk visual maupun tulisan
- Manajemen media digital sebagai sarana publikasi kearifan lokal
Peserta kemudian membuat konten tentang ritual yang masih ada maupun yang sudah punah, dengan pendampingan hingga tahap unggah di situs dan media sosial. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur dampak pelatihan.
Tim pengusul mendorong pemerintah Desa, Kecamatan, dan masyarakat untuk mengoptimalkan media digital yang telah dikembangkan. Diharapkan, publikasi kearifan lokal tidak hanya memperkaya data Warisan Budaya Takbenda (WBTB), tetapi juga meningkatkan kunjungan wisata dan kesejahteraan warga.
“Dengan pengelolaan yang baik, Dusun Sindang berpotensi menjadi destinasi wisata budaya yang menghadirkan atraksi ritual lengkap dengan penginapan yang representatif,” tutur Imam Setyobudi.***
