SUMEDANG, Wplus62.com -– Sebanyak 508 guru Raudhatul Athfal (RA) se-Kabupaten Sumedang mengukir sejarah baru dalam dunia pendidikan anak usia dini. Mereka secara serentak mengikuti kegiatan Peningkatan Kompetensi di Bidang Hak Asasi Manusia (HAM) serta Workshop Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).
Acara monumental ini berlangsung di Aula Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kementerian HAM, Kabupaten Sumedang, pada Sabtu (27/6/2026).
Kolaborasi strategis ini melibatkan PPSDM Kementerian HAM, Kantor Wilayah Kementerian HAM Jawa Barat, Kementerian Agama Kabupaten Sumedang, serta Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Kabupaten Sumedang. Dengan mengusung tema “Meningkatkan Pemahaman Dasar HAM dan KBC Secara Terstruktur dan Menyenangkan”, kegiatan ini bertujuan mencetak generasi emas yang humanis.
Sejumlah tokoh penting turut mengawal langsung agenda ini. Di antaranya Inspektur Wilayah II Kementerian HAM Indra Jaya Ali, Kepala Kanwil Kementerian HAM Jabar Hasbullah Fudail, Kasubag TU PPSDM Kementerian HAM Kamandanu Adji, dan Kepala Kemenag Sumedang H. Hamzah Rukmana. Hadir pula Ketua IGRA Sumedang Rahmat Hidayat, bersama dua narasumber ahli, Eka Yanuarti (PPSDM Kementerian HAM) dan Inti Farhati (Koordinator Pengawas RA Nasional Kemenag RI).
Menanamkan Nilai HAM Sejak Usia Dini
Kasubag Tata Usaha PPSDM Kementerian HAM, Kamandanu Adji, menegaskan bahwa pelatihan ini menjadi langkah awal yang krusial untuk membangun budaya penghormatan HAM di sekolah.
“Kegiatan hari ini merupakan rangkaian awal. Melalui PPSDM Sumedang, Kementerian HAM akan merangkul seluruh guru di Kabupaten Sumedang. Kami mengawalinya dari 508 guru Raudhatul Athfal atau TK,” ujar Kamandanu.
Oleh karena itu, Kamandanu menilai pendidikan HAM wajib menyasar anak-anak sejak dini. Sebab, akar dari berbagai persoalan sosial yang dialami anak kerap kali bermula dari masa kanak-kanak. Selanjutnya, PPSDM Kementerian HAM berencana memperluas jangkauan program ini.
“Pelatihan ini tidak berhenti di guru RA saja, tetapi juga akan menyasar guru SD, SMP, hingga SMA. Kami juga segera berkolaborasi dengan organisasi masyarakat serta instansi pemerintah di sektor pendidikan, kesehatan, dan bidang lainnya,” tambahnya. Selama pelatihan, para peserta membedah materi mulai dari dasar-dasar HAM, pengantar HAM, hingga konsep aplikatif pendidikan berbasis HAM.
Sinergi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)
Sementara itu, Ketua IGRA Kabupaten Sumedang, Rahmat Hidayat, menjelaskan bahwa momentum ini sekaligus menjadi wadah implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Untuk menjaga efektivitas, panitia membagi 508 peserta ke dalam dua ruangan terpisah.
“Kami berharap ke depan guru-guru RA mampu menyusun perangkat pembelajaran yang sesuai dengan Kurikulum Berbasis Cinta. Selain itu, mereka harus mampu menerapkan nilai-nilai HAM secara nyata di lembaga pendidikan masing-masing,” tutur Rahmat.
Disiplin Sekolah Tidak Melanggar HAM
Menanggapi fenomena dunia pendidikan saat ini, Kepala Kanwil Kementerian HAM Jawa Barat, Hasbullah Fudail, meluruskan kekhawatiran para tenaga pendidik mengenai penegakan disiplin. Ia menegaskan bahwa aturan sekolah dan HAM bisa berjalan selaras.
“Guru tidak perlu takut menegakkan disiplin karena khawatir dianggap melanggar HAM. Disiplin dan HAM bukan sesuatu yang bertentangan, asalkan sekolah memiliki regulasi dan SOP yang jelas, serta disepakati bersama oleh sekolah, orang tua, dan siswa,” tegas Hasbullah.
Lebih lanjut, Hasbullah mengingatkan para guru agar tidak terjebak pada formalitas administratif semata. Menurutnya, fondasi utama pendidikan justru terletak pada pembentukan karakter, moral, dan penghormatan terhadap sesama manusia.
Apresiasi Tertinggi: Sumedang Jadi Kiblat Nasional
Langkah progresif ini langsung mendapat apresiasi tinggi dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumedang, H. Hamzah Rukmana. Bahkan, ia menyebut gerakan ini sebagai pelopor di tingkat nasional.
“Kami sangat mengapresiasi IGRA Sumedang yang sukses melibatkan seluruh guru RA. Materi dari Kementerian HAM ini luar biasa relevan untuk pembelajaran di kelas,” puji Hamzah.
Pada akhirnya, Hamzah optimistis bahwa gerakan yang dimulai dari Sumedang ini akan menginspirasi daerah lain di Indonesia.
“Ini adalah pelopor pelatihan HAM bagi guru RA di Indonesia. Semoga ini menjadi titik awal lahirnya pendidikan anak usia dini yang lebih humanis, berkarakter, dan kuat secara nilai kemanusiaan,” pungkasnya.***
