Berita Terkini

Menghidupkan Kembali Kejayaan Sunda: Mahkota Binokasih Singkap Tabir Peradaban di Sumedang

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi didampingi Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir seusai acara prosesi penyerahan mahkota Binokasih
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi didampingi Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir seusai acara prosesi penyerahan mahkota Binokasih

SUMEDANG, Wplus62.com — Pelataran Keraton Sumedang Larang mendadak berubah drastis. Bangunan yang biasanya sunyi sebagai museum, kini bersolek megah layaknya jantung kerajaan yang hidup kembali. Peringatan Milangkala Tatar Sunda dan Hari Jadi Sumedang ke-448 tahun 2026 menjadi momentum bersejarah yang sulit terlupakan.

Riuh rendah warga yang mengenakan pakaian adat kasundaan memenuhi halaman, menciptakan suasana magis yang membawa ingatan jauh ke masa lampau. Fokus utama acara ini adalah Kirab Panji dan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake—sebuah simbol kekayaan warisan leluhur yang membuktikan tingginya peradaban masa lalu.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa jejak fisik Kerajaan Sunda memang sempat memudar dari catatan sejarah. “Kerajaan Sunda itu kehilangan jejak. “Hanya Prasasti Batu Tulis yang tersisa, sementara bentuk istananya telah sirna,” tutur pria yang akrab dengan sapaan Kang Dedi Mulyadi (KDM) itu usai menyerahkan Mahkota Binokasih, Sabtu (2/5/2026).

Namun, Mahkota Binokasih yang tersimpan di Museum Keraton Sumedang menjadi titik terang. KDM mengungkapkan bahwa dirinya telah lama mengamati artefak ini. Berdasarkan kajian akademik terbaru bersama para ahli dari ITB, mahkota tersebut terbukti otentik sebagai peninggalan kerajaan.

Tampak Radya keraton Sumedang Larang, yang H.R.I. Lukman Soemadisoeria bersama istri dan Radya Anom R. Luky Djohari di depan keraton pada saat prosesi menyerahkan Mahkota Binokasih untuk diarak dalam rangkaian acara Milangkala Tatar Sunda

Terbuka untuk Rakyat

Mulai hari ini, pemerintah memperlihatkan Mahkota Binokasih secara terbuka kepada masyarakat melalui Kirab Budaya. Berbagai kesenian tradisional mengiringi pengarakan mahkota ini guna meramaikan rangkaian Milangkala Tatar Sunda yang akan mencapai puncaknya di Bandung pada 8 Mei 2026

Menurut KDM, budaya Sunda menyimpan nilai kelembutan dan kasih sayang yang terpancar dari musik dan pakaiannya. Ia menyebut pakaian kerajaan Sunda sudah sangat fashionable dan mencerminkan peradaban yang maju.

“Dulu orang di dunia belum mengenal peradaban logam, kita sudah punya peradaban logam,” tegasnya.

Memutus Rantai Konflik Sejarah

KDM menyoroti bahwa dinamika politik di masa lalu seringkali menjadi pemicu konflik yang memutus mata rantai sejarah. Kondisi inilah yang membuat banyak nilai luhur terkubur. Untuk itu, ia mengajak masyarakat membangun kembali spirit dan mengembangkan nilai-nilai tersebut di masa kini.

Sebagai langkah nyata, Pemerintah Provinsi menetapkan tanggal 18 Mei sebagai Milangkala Tatar Sunda melalui Peraturan Gubernur (Pergub). Penetapan ini didasarkan pada kajian sejarah yang mendalam.

Menariknya, Milangkala Tatar Sunda tidak hanya menjadi milik warga Jawa Barat semata. Perayaan ini merangkul jangkauan yang lebih luas, mencakup wilayah Banten hingga Jawa Tengah.

Pertunjukan seni kolosal di samping Gedung Sate, Bandung, akan menutup rangkaian perayaan ini sekaligus menampilkan kembali kemegahan masa kejayaan Sunda di hadapan publik.***